RUANGSUJUD.COM - Waktu terus bergerak, selamanya kita terus berkejaran dengan waktu. Ia bisa membunuh kita atau kita yang membunuhnya, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Cepat-lambatnya sang waktu tidak mungkin bisa kita atur. Maka dengan ini, Rasulullah Saw melarang kita untuk mencela waktu. Mencela waktu sama saja mencela pemiliknya. Jangan mencela waktu, karena sesungguhnya Allah adalah pemilik waktu. (HR. Muslim)

Seringkali kita mencela karena waktu yang terus berjalan tanpa henti. Padahal yang harus kita cela adalah diri sendiri, kenapa tidak memaksimalkan waktu yang ada? Sebuah renungan bagi kita, 24 jam dalam sehari digunakan untuk apa saja?

Kita coba fokuskan diri pada suatu kisah berikut yang menjadi cikal bakal turunnya Surah Al-Ashr. Syaikh Muhammad Abduh bilang bahwa diantara kebiasaan orang Arab Jahiliyah adalah bersantai di waktu Ashar. Waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk berbuat baik, malah dibuang begitu saja dengan bercengkerama dan bercanda, sampai saling menyinggung yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan.

Mereka lalu mengutuk waktu ashar. Inilah sebab Allah menurunkan surah Al-Ashr untuk memberi teguran atas kebiasaan orang Jahiliyah. Pada hakikatnya, bukan waktu ashar yang salah tetapi merekalah yang salah. Karena sesungguhnya mereka merugikan diri sendiri.

Surah Al-Ashr memiliki banyak definisi. Ada yang mendefinisikan al-ashr itu zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Ada juga yang bilang kalau al-ashr itu waktu ashar sampai maghrib atau maghrib sampai isya. Akan tetapi, definisi yang terkenal adalah yang pertama, bahwa Al-Ashr didefinisikan secara umum, yaitu zaman, masa atau waktu.

Adanya surah Al-Ashr tidak hanya mengingatkan tentang waktu. Tapi pemaknaan yang lebih dalam tentang hakikat manusia. Bahkan Allah sengaja mengawali surah ini dengan sebuah sumpah, “Demi Masa.”

Sumpah atau qasam dalam Al-Quran menunjukkan ketegasan yang setegas-tegasnya yang menguatkan suatu pesan. Umumnya, setiap ayat yang mengandung qasam berisi tentang tauhid, kebenaran Al-Quran, kebenaran Rasulullah Saw, hari pembalasan serta janji-ancamannya, dan hakikat keadaan manusia.

Surah Al-Ashr jelas memberitahukan bahwa hakikat manusia itu ada dalam kerugian. Dan itu adalah pasti. Manusia kerapkali menghabis-habiskan waktu dan kesempatan hidup di dunia dengan hal-hal yang keluar dari tujuan penciptaan manusia, beribadah. Manusia sering lupa bahwa hidup dia di dunia sangat singkat. Bisa saja sedetik kemudian, kematian menghampirinya.

Manusia harus benar-benar menyadari hakikat dirinya, sehingga bukan hal rugi lagi yang dikejar melainkan akhirat. Agar terhindar dari kerugian, maka manusia harus beriman, mengerjakan amal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan sabar.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menafsirkan ayat ini, “Sesungguhnya seluruh manusia itu pasti berada dalam kerugian, kekurangan dan kehancuran, kecuali orang-orang yang mengumpulkan antara iman kepada Allah dan beramal shalih.”

Jadi, bagaimana cara terbaik menyikapi waktu yang terus berlari meninggalkan kita? Pertama, berimanlah. Iman adalah perbuatan hati yang yakin kepada enam rukun iman. Wujud dari iman adalah berakhlak dan amal shalih. Maka cara selanjutnya menyikapi waktu adalah beramal shalih.

Kedua, habiskan waktu dengan amal shalih. Yaitu dengan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, entah amal yang berefek untuk pribadi maupun amal yang bisa dirasakan orang lain, seperti sedekah.

Ketiga, saling menasihatilah dalam kebenaran dan kesabaran. Sebab kedua hal inilah yang harus terus dijaga secara ‘bersama’ untuk keberlangsungan amal shalih. Saling menasihati ini disebut juga dengan dakwah yang harus dilakukan bersama. Imam Ar-Razi berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran itu berat. Kebenaran akan selalu diuji. Sebab itu, penyebutan kebenaran disertai dengan penyebutan saling menasehati.”