RUANGSUJUD.COM - Kisah Nabi Yusuf cukup populer dikenal. Nabi Yusuf dikenal sebagai nabi yang dianugerahi wajah sangat tampan. Namun sayang, beliau tidak disukai oleh saudara-saudaranya. Saudara mereka yang dengki pun memasukan Yusuf ke dalam sumur. Untungnya ada seorang pedagang budak yang menemukan Yusuf di sumur. Yusuf pun dijual sebagai budak. 

Nabi Yusuf kemudian dibeli oleh Raja Mesir. Dia menjadi pelayan di dalam istana. Ketampanannya membuat Istri Raja Mesir Zulaikha terpesona. Zulaikha bermaksud berbuat asusila dengan Yusuf. Namun Yusuf menolak. Sayangnya Yusuf difitnah sehingga harus masuk penjara. Saat di penjara, ada kasus menarik. Yakni Nabi Yusuf diminta untuk menafsirkan mimpi. 

Hal ini terekam dengan baik dalam Al Qur'an. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya aku (Raja Mesir) bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering. Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi." (QS. Yusuf: 43).

Sang raja kemudian meminta Nabi Yusuf untuk menakwilkan mimpinya tersebut.  “Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui.”  (QS. Yusuf/12: 46)

Nabi Yusuf kemudian menerangkan takwil mimpi tersebut. “Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS Yusuf: 47)

Saran dari Nabi Yusuf dilaksanakan. Benar saja, muncul paceklik selama 7 tahun. Masyarakat dapat terselamatkan karena menerapkan saran Nabi Yusuf tadi. Dalam kegiatan pembagian bahan pangan, Nabi Yusuf kembali bertemu dengan keluarganya. 

Menurut penulis tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, Ibn ‘Asyur, manajemen katahanan pangan ala Nabi Yusuf As tersebut perlu diwujudkan dengan memahami simbol-simbol ketahanan pangan.

Sapi yang gemuk merupakan simbol orientasi produksi pangan dengan mengoptimalkan produksi lahan pertanian. Tangkai gandum yang hijau adalah simbol tata pembenihan, penyuburan dan produksi pangan  untuk mencukupi kebutuhan pokok setiap masa tanam. Sapi yang kurus melambangkan pentingnya mengantisipasi masa paceklik dan krisis pangan di masa mendatang.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari manajemen pangan ala Nabi Yusuf yakni soal pentingnya swasembada pangan. Hal ini bisa diwujudkan dengan produksi pangan yang maksimal namun tetap antisipatif atas segala kemungkinan. Nabi Yusuf juga mengajarkan agar kita mempunyai persiapan stok pangan guna menghadapi masa paceklik yang mungkin terjadi. 

Jika dikaitkan dengan konteks masa kini, krisis pangan masih menjadi ancaman di tengah semakin bertambahnya populasi manusia. Terlebih dalam situasi pandemi seperti sekarang ini. Manajemen ketahanan pangan selayaknya diterapkan dari hulu sampai hilir. Dari mulai produksi pangan sampai dengan penyimpanan stok pangan. Inisiatif pemerintah berupa pembuatan food estate merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah mengatasi krisis pangan.