RUANGSUJUD.COM - Umar bin Khattab adalah khalifah kedua yang mempunyai kecerdasan dan keberanian. Beliau adalah khalifah yang sukses dalam memimpin rakyatnya. Umar dikenal sebagai khalifah yang adil dan anti terhadap korupsi dan nepotisme. 

Suatu hari Umar sedang berjalan-jalan ke sebuah desa yang terpencil di Madinah. Dalam bahasa sekarang apa yang dilakukan Umar dikenal dengan blusukan. Umar melaksanakan blusukan pada malam hari, agar tidak mudah dikenali oleh rakyatnya. 

Suatu malam, Umar menemukan rumah yang masih menyala. Di dalamnya ada seorang ibu yang sedang memasak dan anak-anak yang lapar menunggu ibunya selesai memasak. Umar pun izin masuk ke rumah tersebut. 

Umar kemudian mendengar suara tangisan anak kecil. Umar pun bertanya kenapa anaknya menangis. Sang wanita menjawab bahwa anaknya dalam kondisi lapar. Umar lalu bertanya mengenai apa yang sedang dimasak wanita tersebut. 

Wanita itu mempersilahkan Umar melihat sendiri masakannya. Umar terkejut, melihat bahwa yang dimasaknya adalah batu. Wanita tersebut mengaku sebagai janda yang miskin, dia memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya saja. 

Wanita tersebut kemudian mengeluh mengenai kepemimpinan Umar bin Khattab. Dia tidak tahu bahwa yang di hadapannya adalah Umar sang Khalifah. Umar pun tak kuasa menahan air mata. Dia merasa berdosa membiarkan ada rakyatnya yang kelaparan. 

Umar segera pergi kembali ke Madinah. Dia memikul sendiri karung yang berisi gandum untuk diserahkan kepada sang wanita. Sahabat yang mendampingi Umar menawarkan bantuan, namun Umar tidak mau. Dia mau memikul sendiri karung gandum tersebut. 

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

" Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

" Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.

" Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.

Kisah di atas menunjukkan betapa luar biasanya kepemimpinan Umar bin Khattab. Umar tidak anti kritik dan juga sangan peduli dengan rakyatnya. Sebuah kisah yang seharusnya diteladani oleh para politisi di masa kini.