RUANGSUJUD.COM - Pasca serangan 9/11 Amerika Serikat segera mendeklarasikan Perang Melawan Teror. Amerika Serikat segera melakukan invasi ke Afghanistan dan Irak. Amerika Serikat beralasan bahwa ada senjata pemusnah massal yang dikembangkan oleh Saddam Hussein. Sebuah alasan yang ternyata mengada-ada. 

Adapun alasan Amerika Serikat menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan Taliban yang melindungi Osama bin Laden. Dengan mengerahkan tentara yang terlatih dan persenjataan yang canggih Amerika Serikat berhasil meluluhlantakkan Afghanistan dan Irak. Osama bin Laden dan Saddam Hussein berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh Amerika Serikat. Negara boneka juga berhasil dibentuk di kedua negara tersebut. 

George W. Bush menjadi arsitek dan dalang dari perang melawan teror. Sikap Bush disetujui oleh Kongres Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Sayangnya secara kasat mata Amerika Serikat menemui kegagalan dalam perang melawan teror yang mereka cetuskan. Peristiwa terbaru adalah direbutnya kembali Afghanistan oleh Taliban. 32 Triliun dollar habis begitu saja di Afghanistan dengan hasil yang sia-sia. 

Hafizh Mulia dalam tulisannya di asumsi.co mengutip tulisan A. Trevor Thrall dan Erik Goepner yang berjudul Step Back: Lessons for U.S. Foreign Policy from the Failed War on Terror,  terdapat tiga indikator kegagalan dalam War on Terror. Pertama, adalah fakta bahwa Amerika Serikat masih rentan terhadap serangan terorisme.

Sebagai sebuah usaha untuk melakukan kontra-terorisme, Amerika Serikat telah menyerang berbagai macam organisasi yang terindikasi terorisme di negara-negara Timur Tengah. Tapi alih-alih membuat Amerika Serikat aman dari serangan terorisme, Thrall dan Goepner merasa bahwa War on Terror membuat Amerika Serikat menjadi lebih tidak aman.

Kedua, dengan seluruh biaya yang sudah dikerahkan, Amerika Serikat masih gagal menghancurkan total Al-Qaeda, Islamic State, atau kelompok teroris manapun di seluruh dunia. Ketiga, War on Terror juga gagal meredam pre-kondisi yang membuat kelompok-kelompok tersebut berkembang.

Dari ketiga kegagalan ini, Thrall dan Goepner melihat bahwa sebenarnya terdapat dua sumber kegagalan War on Terror. Pertama, adanya penilaian yang berlebihan mengenai jumlah anggota dan kapabilitas dari suatu kelompok teroris. Akibatnya, usaha yang dikerahkan pun terlalu masif, membuat Amerika Serikat tidak hanya berusaha mengeliminasi kelompok teroris tertentu sebagai sumber terorisme 9/11, tetapi terobsesi untuk menghancurkan seluruh kelompok terorisme di dunia. Dengan kata lain, Amerika Serikat gagal mengeliminasi permasalahan utama dan justru menciptakan permasalahan lain.

Kemudian, sumber kedua dari kegagalan War on Terror adalah strategi yang salah. Tiga aspek dari kesalahan strategi ini adalah adanya strategi yang berbasis motif politik, alih-alih hanya sekadar meredam terorisme, strategi menggunakan kekuatan militer, dan strategi berbasis usaha untuk mengatur urusan domestik negara lain. Ketiga aspek kesalahan strategi ini terkonstitusi satu sama lain, membuat usaha-usaha Amerika Serikat meredam terorisme menjadi kontra-produktif.