Seri ke-5 Jalan Bisnis Rasulullah

BISNIS memiliki peran sangat vital dalam upaya memenuhi kebutuhan manusia. Aktivitas bisnis mempengaruhi hampir semua tingkat kehidupan manusia.

Setiap hari, jutaan manusia pergi ke pasar-pasar, ladang, kantor atau di era sekarang cukup online di depan komputer atau telepon genggam, untuk melakukan kegiatan bisnis. Baik untuk memproduksi, jual beli, atau sekadar mengkonsumsi.

Karena punya peran penting dalam hidup, maka gak usah heran jika Islam menaruh perhatian besar terhadap aktivitas ini. Rasulullah sendiri, bahkan sudah menjalani aktivitas bisnis sejak masih muda, tepatnya di usia 12 tahun.

Ada banyak alasan, seperti saya ungkap di tulisan sebelumnya. Kenapa Muhammad merasa perlu membangun bisnis sejak muda. Salah satunya agar dia bisa menjaga trust dan integritas.

Melalui bisnis, muhammad yakin, dapat terus menjaga kelangsungan hidup sekaligus meringankan beban orang-orang di sekelilingnya.

Jika menggunakan konsepnya Stephen Covey dalam bukunya “The Seven Habit, maka Muhamad sesungguhnya memiliki habit atau karakter pebisnis, bahkan sejak ia muda usia.

Sejak muda, Muhammad sudah proaktif seperti disebut Covey. Meski diberi sangu dan diurus paman dan kakeknya, Muhammad tak mau hanya diam saja. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Dan benar saja, ia pun mulai menggembala kambing di usia 8 tahun, dan berdagang di usia 12 tahun.

Ketika mulai berdagang, Muhammad selalu berusaha untuk memahami objek bisnis, dan membangun sinergi dan kepercayaan. Muhammad ingin menjalankan sebuah bisnis yang dibangun dengan integritas.

Setelah diangkat menjadi Nabi, aktivitas bisnis Muhammad bisa dibilang dijalankan berdasarkan bimbingan wahyu dari Allah Swt. (profetic value).

Salah satu nilai atau karakter bisnis yang sesuai dengan wahyu misalnya sebagaimana disebut dalam al-Qur’an surah al-Baqarah [2] ayat 275. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Melalui panduan wahyu, Rasulullah lantas menyampaikan soal pentingnya aktivitas berbisnis, terutama berniaga untuk meraih rezeki. Hal ini seperti hadist yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rezeki.” (HR. Imam Ahmad).

Hadist ini sesungguhnya juga menggambarkan bagaimana pengalaman Rasulullah dalam menjalankan bisnis. Melalui jalan bisnis, Rasulullah bisa menghasilkan keuntungan yang banyak.

Kuncinya, jika ingin agar bisnis menjadi jalan kesuksesan, maka pertama selalu menjaga kejujuran, menjaga kebenaran (siddiq). Nilai dasarnya adalah integritas. Dalam bisnis termanifestasi dalam perilaku jujur, ikhlas, terjamin dan keseimbangan emosional.

Kunci kedua, adalah Amanah. Nilai dasarnya adalah terpercaya. Ketika menjalan bisnis maka yang dijaga adalah kepercayaan, tanggungjawab, transparan dan tepat waktu.

Ketiga, Fathonah, nilai dasarnya memiliki pengetahuan luas. Ketika di dalam bisnis termanifestasikan dalam nilai critical thinking, tau kualitas produk, serta tak berhenti belajar.

Keempat, Tabligh. Nilai dasarnya adalah komunikatif. Lalu dalam aktivitas bisnis termanifestasikan dalam nilai-nilai seperti mudah bergaul, pintar melakukan koordinasi, punya kendali supervisi dan sebagainya.

Dan Kelima adalah Berani, nilai bisnis ini termanifestasi dalam praktik bisnis berupa kecepatan mengambil keputusan.

Nah keberanian untuk melakukan ini tentu berdasarkan kesadaran dan walaupun kita baca di dalam al-Qur’an surat ad-dhuha itu adalah satu bentuk karunia Allah. Tetapi karunia Allah dan kesadaran Muhammad ini kemudian menyatu dan akhirnya menjadi potensi besar meraih kesuksesan bisnis. [ ]