RUANGSUJUD.COM - Terkadang manusia yang sudah berlumur dosa berputus asa dengan keadaannya. Dia sudah merasa tidak akan bisa bertaubat. Atau memang tidak mau bertaubat karena kenyamanan dalam kondisinya. Ada juga yang merasa taubatnya tidak akan diterima saking banyaknya dosa yang dilakukan. 

Padahal, luasnya ampunan dan rahmat Allah SWT mengalahkan murkaNya. Dalam kitab hadits Riyadhus Shalihin yang disusun Imam Nawawi diceritakan mengenai seorang pemuda yang sudah membunuh 99 orang. Dia ingin bertaubat, namun mencari guru yang bisa membimbingnya. 

Alkisah, di tengah jalan dia menemukan seseorang. Sang pemuda bertanya apakah mungkin dia bisa bertaubat setelah membunuh 99 orang? Orang tersebut kaget mendengar pengakuan pemuda tersebut.

Dia mengatakan bahwa dosa yang diperbuat pemuda itu sudah sangat besar sehingga tidak bisa lagi diperbaiki. Sang pemuda pun membunuhnya sehingga genaplah dia membunuh 100 orang. 

Sang pemuda pun meneruskan perjalanannya untuk mencari ulama yang bisa membimbingnya. Dia menemukan seorang ulama, pertanyaan yang sama ditanyakan kepada ulama tersebut. Apakah dirinya masih mungkin diampuni? Sang ulama menjawab iya. Masih ada kemungkinan dia untuk diterima taubatnya. 

Sang ulama menyuruh sang pemuda untuk ke suatu daerah dimana di dalamnya banyak orang yang menyembah Allah SWT. Sang pemuda pun bergegas untuk berangkat. Di tengah jalan, dia meninggal. Malaikat azab dan malaikat rahmat berselisih tentang siapa yang akan mencabut nyawanya. 

Malaikat azab merasa berhak mencabut nyawa karena sang pemuda belum pernah berbuat kebaikan sama sekali. Sebaliknya sang malaikat rahmat merasa bahwa sang pemuda dalam perjalanan bertaubat sehingga berhak masuk surga. 

Datang petunjuk dari Allah SWT bahwa harus diukur jaran perjalanan pemuda. Apakah lebih dekat ke tempat yang dituju atau tempat asal dimana dia bermaksiat. Berdasarkan pengukuran, sang pemuda sudah lebih dekat dengan tempat tujuan. Maka malaikat rahmat yang mencabut nyawanya. 

Kisah di atas merupakan ilustrasi sebesar apapun dosa manusia masih ada kesempatan diampuni, bahkan husnul khatimah. Namun kisah di atas tidak boleh dimanfaatkan bagi kita untuk sengaja berbuat maksiat dengan alasan sifat Rahmat Allah SWT. Berpendapat bahwa rahmat Allah Maha Luas sehingga bisa berbuat seenaknya merupakan jebakan Iblis. 

Tak ada orang yang terlalu kotor untuk bertaubat, sebagaimana tak ada juga orang yang terlalu suci untuk tergelincir. Maka sebagai manusia kita harus senantiasa mawas diri agar senantiasa istiqomah dalam kebaikan.