RUANGSUJUD.COM - Setelah Universitas Siber Muhammadiyah dan Australia Muhammadiyah College, Muhammadiyah kembali melancarkan ikhtiar internasionalisasinya dengan mendirikan sekolah di Lebanon untuk pengungsi Palestina.

Dilansir dari berita republika.co.id (11/01), sekolah Muhammadiyah untuk pengungsi Palestina ini ternyata sudah masuk bangunan yang kedua. Informasi dari Dubes RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari, Muhammadiyah sudah memiliki sekolah dengan nama Madrasah Muhammadiyah I dan sekarang sudah membeli sebuah gedung, tepatnya di kamp pengungsian daerah Shatila, Beirut, Lebanon yang nantinya akan dinamai Madrasah Muhammadiyah II (Muhammadiyah Center of Education, Culture, and Humanity).

Pendirian sekolah ini merupakan implementasi dari amanat Muktamar Muhammadiyah ke-47 tahun 2015 di Makassar yaitu internasionalisasi pendidikan Muhammadiyah. Diharapkan pula dengan pendidikan, perdamaian di dunia bisa terlaksana. 

Gedung Madrasah Muhammadiyah II di Lebanon ini terdiri dari tujuh lantai yang peresmiannya direncanakan pada awal tahun ini. Edi Suryanto, Direktur Korporat dan Kelembagaan Lazismu Pusat menuturkan bahwa pendirian sekolah Muhammadiyah di Shatila dilakukan atas kerja sama dengan Kedutaan Besar RI untuk Lebanon. Dan sekolah ini diperuntukan bagi pengungsi Palestina yang ada di Kamp Pengungsian Shatila.

Kepada Republika.co.id, Edi Suryanto juga mengutarakan bahwa pendirian sekolah ini dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas SDM di pengungsian yang nanti diharapkan para pengungsi akan mampu mengelola dan mengoptimalkan berbagai sumber daya untuk kemandirian bangsanya.

Sumber dana pendirian sekolah ini tidak lain berasal dari Lazismu program infak kemanusiaan Palestina bidang pendidikan. Edi mengatakan bahwa dana untuk pembangunan madrasah kedua ini sudah ada dan tinggal menunggu pelaksanaanya saja.

Sementara itu, Hajriyanto, Dubes RI untuk Lebanon meminta agar kader Muhammadiyah harus mampu berkiprah mengabdi di luar negeri. Apalagi masyarakat sudah tahu kalau kader Muhammadiyah itu terkenal dengan intelektualitasnya. Karenanya, kader Muhammadiyah punya peluang besar untuk aktif di lingkup internasional, baik kader konvensional yang aktif di organisasi otonom, maupun kader yang belajar di sekolah Muhammadiyah.

“Kader-kader Muhammadiyah melalui dua jalur tersebut memiliki peluang untuk berperan besar di kancah internasional. Oleh karena itu, kader Muhammadiyah perlu membenahi diri dan mengembangkan diri dengan meningkatkan berbahasa asing, terlebih Bahasa Inggris dan Arab,” ujar Hajriyanto.