RUANGSUJUD.COM - Sejarah Islam mencatat bahwa di zaman Nabi Muhammad SAW ada seseorang yang mengaku-ngaku nabi, dialah Musailamah Al-Kazzab. Sematan gelar Al-Kazzab yang berarti pendusta diamini masyarakat arab saat itu, khususnya muslim. Pasalnya, dia selalu membuat hoax alias berita dusta terkait pengakuan ‘kenabiannya’.

Orang yang mempunyai nama asli Maslamah bin Habib ini berasal dari Bani Hanifah. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa nama aslinya adalah Harun bin Habib Al-Hanafi, sementara kuniyah atau panggilannya adalah Abu Tsumamah.

Kabilahnya, Bani Hanifah merupakan kabilah terbesar di jazirah Arab. Wilayah kekuasaan kabilah ini berpusat di Yamamah. Bersumber dari temuan sejarah, Musailamah termasuk orang yang membangun dan membersarkan Yamamah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.

Tatkala Nabi Muhammad SAW meluaskan dakwah Islam ke seluruh jazirah arab. Tepatnya pada tahun kesepuluh hijriah, Musailamah datang ke Madinah bertemu Nabi. Pertemuan itu kemudian menjadi saksi pernyataan Islam Musailamah beserta rombongannya.

Tapi nyatanya, pernyataan islam Musailamah tidak bertahan lama, dia murtad. Sejak saat itu pula, dia mengaku sebagai seorang Nabi yang diutus Allah kepada Bani Hanifah. Kelihaiannya dalam beretorika menjadi faktor penguat hoax sehingga dia terlihat seperti seorang nabi.

Selain itu, penguasaannya terhadap sihir juga menjadi bahan hoax terkuat selanjutnya. Mukjizat dan sihir secara fisik terlihat sama, karena keduanya datang diluar kemampuan manusia biasa. Adapun perbedaan keduanya adalah sumber dan tujuan kedatangannya. Mukjizat murni datang dari Allah SWT dan diperuntukkan sebagai petunjuk. Sedangkan sihir bisa didatangkan dengan cara dipelajari dan diantara tujuannya adalah menandingi dan melawan sesuatu.

Melalui sihir inilah, Musailamah pede dengan hoax kenabiannya. Dia merasa bisa menandingi Nabi Muhammad SAW, apalagi kredibilitasnya di wilayah Yamamah sudah diakui. Sehingga wajar saja bila banyak orang yang termakan hoax kenabiannya dan terpedaya sihirnya.

Kepedeannya makin hari makin menjadi-jadi, hingga akhirnya dia berani membuat syair-syair yang menyerupai Al-Quran, yang dia sebut ayat. Sebagian besar ‘ayat’ yang dibuatnya berisi pujian atas sukunya. Beberapa ayat lainnya meniru redaksi Al-Quran. Seperti ayat ini sebagai tiruan surat Al-Fiil.

"Hai katak (kodok) anak dari dua katak, berkuaklah sesukamu, bahagian atas engkau di air dan bahagian bawah engkau di tanah.”

Dalam suatu riwayat diceritakan pula bahwa Musailamah pernah bertanya kepada Amr bin Ash tentang turunnya surat Al-Ashr. Saat itu terjadi dialog singkar diantara mereka. “Apa yang telah diturunkan kepada temanmu (Nabi SAW) waktu ini?”, tanya Musailamah kepada Amr bin Ash. Kemudian Amr bin Ash menjawab, “Telah diturunkan padanya suatu surat yang ringkas namun mendalam.” Dan Amr bin Ash membacakan surat Al-Ashr.

Dengan arogansi hoax kenabiannya, Musailamah mengangkat kepala dan bilang kepada Amr bin Ash bahwa dia juga telah mendapat ayat yang sejenis. Dia memperdengarkan karangan ayatnya kepada Amr: “Wahai bulu, wahai bulu, sesungguhnya kamu hanyalah sebutan dan muncul, sedangkan kesuluruhanmu adalah lubang.”

Amr bin Ash menanggapi karangan Musailamah, “Demi Allah, sesungguhnya kamu sendiri tahu bahwa sesungguhnya aku mengetahui kalau kamu itu membuat hoax
(berdusta).”

Dia juga bahkan sempat melayangkan sebuah surat tantangan kepada Nabi SAW. “Dari Musailamah utusan Allah untuk Muhammad utusan Allah (juga). Salam sejahtera, aku telah ditetapkan untuk menjalankan tugas dan kekuasaan bersama engkau. Aku berkuasa atas separuh negeri dan separuh Quraisy. Akan tetapi, Quraisy adalah umat yang kasar dan kejam.”

Nabi SAW membalas surat tersebut dengan bijak disertai dalil Al-Quran. “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah sang pendusta (Al-Kazzab). ‘Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk’ (QS. Thaha ayat 47). Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah SWT. Diwariskan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Hal yang paling bodoh yang pernah dilakukan si pendusta ini adalah berusaha mengapuskan perintah wajib salat serta membebaskan seks dan alkohol. Bagaimana bisa seorang nabi menghalalkan keburukan?

Para ulama ahli sejarah bercerita bahwa Musailamah adalah plagiator mukjizat Nabi SAW. Dengan segala kehoax-annya, alih-alih menyelamatkan orang, dia malah mencelakakan orang. Naudzubillah. Tidak ditemukan satupun kebaikan dari hoax sihirnya kecuali berakhir celaka.

Pernah suatu hari, dia mendengar Nabi SAW meludah ke sebuah sumur dan setelah itu airnya melimpah. Musailamah meniru hal serupa, namun celaka, sumurnya malah menjadi kering. Ada juga yang menyebutkan airnya menjadi asin dan tidak bisa diminum.

Dia juga pernah berwudhu kemudian menyiramkan air wudhunya ke sebuah pohon kurma, celakanya pohon kurma itu mati. Dia pernah mengumpulkan anak-anak untuk disantuni, kemudian kepala anak-anak itu diusap. Tapi apa yang terjadi? Celaka, diantara anak-anak itu ada yang botak kepalanya, ada pula yang lidahnya menjadi cadel. Dia pernah mendoakan seorang laki-laki yang memiliki penyakit mata. Alih-alih sembuh, setelah Musailamah mengusap matanya, celaka, laki-laki itu malah menjadi buta.

Sepeninggal Nabi SAW, dia semakin pede dengan hoax kenabiannya. Namun naas, kepedeannya itu adalah kecelakaan yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dia menyatakan perang kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, namun pasukannya berhasil dikalahkan Panglima Perang, Khalid bin Walid. Pada perang Yamamah, si pembuat hoax ini akhirnya tewas terbunuh, dia dibunuh oleh Wahsyi. Sungguh celakanya dia bahkan sampai akhir hayatnya. Na’udzubillah min dzalik.