RUANGSUJUD.COM - Lalu pasukan dibagi empat. Mereka masuk ke Mekkah dari empat penjuru mata angin. Zuhair bin Awwam masuk Makkah dari utara. Khalid bin Walid memasuki Makkah dari arah dataran rendah. Ali bin Abi Thalib masuk dari dataran tinggi. Keempat pasukan tersebut akan bergabung bersama pasukan Rasululllah SAW di kaki gunung Hind. 

Ketika masuk ke jantung Kota Makkah, tak satu pun penduduk Quraisy yang menampakkan diri. Mereka berada di rumah, di Masjidil Haram, dan di rumah Abu Sufyan. Kota serasa tak bertuan. Sunyi sepi.

Rasulullah SAW berhenti di dekat Ka’bah. Ia melihat sekeliling kota yang tak bertuan itu. Terlihat lembah-lembah terbentang dan bukit-bukit menjulang. Ia teringat masa ketika diboikot dan dikucilkan Kaum Quraisy; penuh penderitaan, lapar dan haus. 

Ketika melihat Gua Hira, ia teringat bagaimana bertemu Jibril kali pertama. Dan ketika melihat Ka’bah ia pun tak kuasa menahan rasa rindunya. Air mata Rasulullah SAW luruh satu persatu, pipinya basah. 

Rasulullah SAW segera mendatangi Ka’bah, lalu keluar pula orang-orang Quraisy. Mereka berbondong-bondong menghampiri Rasululah dengan ketakutan mendalam. Wajah-wajah tirus nan pasrah itu tak lagi kuasa melawan.

Mereka yang dulu pandai mengolok-olok beliau, mencaci, memaki, bahkan melemparinya kotoran. Menganiaya dan menyiksa para pengikutnya. Ada pula yang membuat para sahabat termasuk paman nabi, Hamzah harus meregang nyawa.

Setelah sempat memberikan khutbah singkat, Rasulullah SAW lantas bertanya, apa nian yang mesti ia lakukan kemudian? “Wahai orang-orang Quraisy! Menurut kalian apa yang harus aku lakukan saat ini?” kata Rasulullah SAW. 

Penduduk Mekkah terperanjat ketakutan. Sebagian malah terkencing-kencing. Takut, karena sebentar lagi kepalanya akan ditebas.

Makkah ketika itu, hening dan mencekam. Kaum Quraisy harap-harap cemas, menunggu pembalasan orang-orang yang dianiayanya. Hingga akhirnya, Rasulullah pun meniupkan embun di tengah terik matahari kota Makkah. 

“Kalian tidak bersalah, pergilah. Sekarang kalian bebas!”

Peristiwa Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Mekkah adalah peristiwa penting yang sangat menentukan bagi keberlangsungan dakwah Islam di Mekkah pasca Hijrah. Pembebasan Mekkah berlangsung pada tahun 8 Hijriah atau 630 Masehi.

Susmihara dan Rahmat dalam bukunya berjudul ‘Sejarah Islam Klasik’ menuturkan, peristiwa Pembebasan Mekkah disebabkan oleh pelanggaran-pelanggaran kaum Quraisy terhadap perjanjian damai Hudaibiyah.

Kaum Quraisy melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap kabilah Bani Khuza'ah yang saat itu termasuk dalam golongan yang dilindungi oleh perjanjian Hudaibiyah. 

Nabi Muhammad SAW yang mendengar adanya pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Quraisy segera merencanakan sebuah perlawanan. Nabi Muhammad SAW bersiap untuk mengerahkan pasukan Islam untuk melakukan perlawanan terhadap kaum Quraisy. Semua kekuatan dikerahkan, jika dilesatkan maka Kota Mekkah niscaya remuk redam.

Namun yang terjadi kemudian ternyata pembebasan sebuah kota tanpa darah dan air mata. Bayangan kerusakan, berubah jadi pembebasan terindah sebuah kota. Semoga pembebasan Kota Kabul tak mendorong orang akan kekerasan dan teror, namun keindahan dan kedamaian yang diperlihatkan dalam Fathu Makkah masa Rasulullah. [TAMAT]

Penulis: M. Muchlas Rowi (Founder Monday Media Group)