RUANGSUJUD.COM - Ada sebuah kisah yang berasal dari hadits shahih Bukhari dan Muslim. Kisah ini juga dicantumkan oleh Imam Nawawi dalam Kitab Hadits Arba'in yang ditulisnya. 

Alkisah ada tiga orang yang sedang berjalan kaki. Di tengah jalan turun hujan. Mereka bertiga mencari tempat berteduh. Ada sebuah gua yang kosong. Mereka bertiga pun masuk ke dalamnya. 

Tiba-tiba, sebuah batu besar jatuh di pintu masuk gua. Mereka bertiga pun terkurung di dalam gua tersebut. Ketiganya panik, namun berusaha tetap tenang dan mencari cara bagaimana keluar dari gua tersebut. 

Salah seorang dari mereka mengajak kawannya untuk menjadikan amal salehnya sebagai wasilah agar doa mereka dikabulkan. Mereka bertiga berdoa agar Allah SWT menyelamatkan mereka untuk bisa keluar dari dalam gua tersebut. 

Maka orang pertama mulai bercerita, bahwa dahulu dia pernah merawat orang tuanya dan juga anak istrinya. Setiap hari dia rutin membawakan susu untuk keluarganya. Dia selalu memberikan susu terlebih dahulu kepada ibunya yang sudah tua dibanding dengan anak dan istrinya. 

Suatu ketika anaknya merengek minta susu, sementara ibunya sudah tidur. Namun dia tetap ingin ibunya dulu yang menikmati susu terlebih dulu. Setelah ibunya menikmati barulah anak dan istrinya. Dia berdoa kepada Allah SWT, jika amal tersebut dilakukan karena Allah, maka tolonglah dia untuk bisa keluar dalam gua. 

Batu yang menghalangi pintu gua pun sedikit bergeser. Melihat itu, orang kedua segera menceritakan amal salehnya. 

Dia mengisahkan dulu pernah menyukai saudara sepupunya yang cantik. Timbul pikiran untuk berzina dengan perempuan tersebut. Dia mencoba membujuk perempuan itu dengan sejumlah uang. Saat hampir berzina, sang perempuan tersebut menyuruh agar ingat kepada Allah SWT. Dengan segera sang laki-laki tersebut ingat kepada Allah dan membatalkan niat jahatnya. 

Dia pun bertaubat kepada Allah SWT dan menyadari kesalahannya. Dia kemudian berdoa, jika hal tersebut merupakan amal saleh, maka tolong bukalah pintu gua tersebut. Singkirkanlah batu yang menghalangi mereka. Batu tersebut pun kembali bergeser, namun mereka belum bisa keluar. 

Orang terakhir mulai bercerita. Bahwa dulu dia pernah memperkerjakan seseorang dengan upah satu firaq beras. Saat akan diberikan, orang tersebut malah menolaknya. Orang tersebut kemudian menanam upah tersebut sehingga tumbuh. Hasil dari panennya bisa untuk membeli banyak sapi. 

Saat ditagih kembali, dia memberikan sapi-sapinya kepada mantan pekerjanya tersebut. Si pekerja kaget, karena seharusnya tidak sebesar itu yang diterima. Namun orang itu ikhlas memberikan sapi-sapi yang memang merupakan hak sang pekerja. 

Dia berdoa, jika hal tersebut memang amal saleh, maka tolonglah mereka. Akhirnya batu tersebut bergeser dan sudah tidak menghalangi pintu gua. Mereka bisa keluar dari gua tersebut. 

Kisah di atas menjadi contoh bahwa kita dibolehkan tawasul dengan amal saleh. Adapun tawasul dengan orang saleh masih diperselisihkan hukumnya. Bertawasul dengan orang saleh juga dikhawatirkan jatuh kepada kemusyrikan karena berhala-berhala yang ada di Mekkah dahulu merupakan orang saleh. 

Hal ini bukan berarti saat beramal saleh kita mengharapkan motif dunia. Justru kisah di atas menunjukan amal saleh mereka bisa menolongnya karena dilakukan dengan ikhlas dan tanpa motif duniawi. Jika amal saleh kita pun tidak langsung memberikan kita kebaikan di dunia, maka boleh jadi di akhirat akan menolong kita.