RUANGSUJUD.COM - Netizen digemparkan oleh aksi pria menendang dan membuan sesajen di Semeru. Melalui rekaman video terlihat seorang pria menendang dan membuang-buang sesajen yang tersebar di kaki gunung semeru. 

Pria itu berpandangan bahwa sesajen akan mengundang murka Allah. "Ini yang membuat murka Allah. Jarang sekali disadari bahwa inilah yang justru mengundang murka Allah, hingga Allah menurunkan azabnya, Allahu Akbar", ucap dia.

Tak bisa dipungkiri, kehadiran aliran kepercayaan nenek moyang masih lestari hingga masa modern saat ini, termasuk tradisi membuat sesajen. Dan hal ini dianggap sudah menjadi adat istiadat bangsa Indonesia sendiri. Sah-sah saja jika memiliki kepercayaan nenek moyang. Sebab, institusi pemerintah memiliki pasal khusus yang melindungi kebebasan beragama setiap orang.

Adanya kebebasan beragama, menuntut setiap penganut agama menjunjung tinggi toleransi. Makannya, pantas saja aksi pria penendang sesajen mendapat banyak kecaman. Meskipun terlihat sepele, tindakan pria tersebut dianggap telah menganggu kerukunan beragama. Dia bahkan terancam dijerat pasal 156 KUHP tentang ujaran kebencian dan penghinaan terhadap suatu golongan.

Sebagai seorang muslim, kita tahu bahwa sesajen itu memang bisa mengundang murka Allah dan dapat merusak kemurnian iman karena sudah termasuk perbuatan syirik kepada Allah. Tetapi, untuk menyingkirkan sesajen, ada cara yang lebih baik daripada membuang ataupun menendangnya. Inilah cara yang dilakukan Sang Pencerah, K.H. Ahmad Dahlan.

K.H. Ahmad Dahlan hidup di zaman dimana tradisi membuat sesajen dianggap sebagai kebiasaan yang tidak boleh ditinggalkan. Artinya, di zaman itu sesajen sudah mengakar dan mendarah daging. Penyakit TBC atau takhayul, bid'ah, churofat mewarnai masyarakat Kauman, Yogyakarta di masa itu. Hal ini yang membuat Ahmad Dahlan risau. Ia tahu jikalau praktik sesajen ini dapat mencederai keimanan.

Dengan iseng dan polos, Ahmad Dahlan mencoba memakan apa yang tersaji di dalam sesajen. Seolah-olah sesajen tersebut diterima oleh roh nenek moyang. Dalam pandangan masyarakat Kauman, memakan sesajen adalah hal tabu yang bisa memancing petaka. Tapi, Dahlan tidak takut akan pandangan itu, sebab yang bisa mendatangkan petaka hanya Allah, bukan roh nenek moyang.

Pada usia 15 tahun, Dahlan berkesempatan melaksanakan ibadah haji. Di samping berhaji, ia juga belajar disana dan dari sinilah Dahlan menemukan cara untuk menyembuhkan masyarakat dari penyakit TBC. Ia mempelajari pemikiran tokoh pembaharu Islam seperti, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaludin Al-Afgani. 

Gerakan kembali pada Al-Quran dan Sunnah menjadi mesin penggerak Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Melalui langgarnya, ia menyebarkan vaksin penyakit TBC. Perlahan tapi pasti ia menularkan pemahaman dan ilmu kepada para muridnya. Meluruskan apa yang belok dan membenarkan apa yang salah, yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.

Meski banyak ujian yang menerpa, cercaan dari banyak pihak, Dahlan tak putus harapan. Tekadnya memurnikan ajaran Islam membuahkan hasil. Tanpa disadari, masyarakat Kauman sedikit-sedikit mulai meninggalkan tradisi sesajen, menyembah pohon, dan aktivitas TBC lainnya. Langgar Dahlan semakin ramai, Muhammadiyah makin banyak anggotanya.

Praktik syirik dan TBC memang sulit dihapuskan dari bangsa kita. Sementara, agama kita merisalahkan dakwah untuk menghapuskan hal tersebut. Memang, kita harus menyingkirkan dan menghapuskan hal tersebut sebagai dakwah, tapi caranya tidak dengan menendang dan membuang-buang sesajen, itu bukan kategori dakwah yang mau'idzhoh hasanah ataupun hikmah.

Diantara cara dakwah yang paling bijak adalah dakwah Ahmad Dahlan yaitu dengan sosial dan pendidikan. Dengan ilmu dan pemahaman, juga kegiatan amal sosial, kita bisa lihat bagaimana kebiasaan jumud/dogmatis masyarakat Kauman berevolusi. Mereka tercerahkan dengan setiap nilai dan ajaran yang disampaikan Ahmad Dahlan.