RUANGSUJUD.COM - Di tengah ramainya pembahasan boneka arwah, ternyata memiliki boneka sah-sah saja dalam Islam. Bahkan, Siti Aisyah ra menjadikan boneka sebagai mainannya. 

Siti Aisyah adalah istri nabi termuda karena dinikahi nabi Saw di usianya yang belia, yakni di usia 9 tahun, ada pula riwayat yang mengatakan 12 tahun. Sehingga wajar saja bila di dalam kehidupan pernikahan beliau dengan Nabi masih terlihat banyak sekali sifat lucu kekanak-kanakannya. Karena memang fitrahnya masih ingin bermain. Salah satu kegiatan bermain yang pernah diceritakannya adalah bermain boneka.

Aku dahulu pernah bermain boneka di samping Nabi Saw. Aku punya beberapa sahabat yang biasa bermain bersamaku. Ketika Rasulullah Saw masuk dalam rumah, sahabat akupun bersembunyi dari beliau. Lalu beliau menyerahkan mainan padaku satu demi satu lantas mereka pun bermain bersamaku" (HR. Bukhari).

Dalam hadis di atas, Aisyah bercerita bagaimana dirinya bermain bersama teman-temannya. Dan beliau secara jelas menyatakan bahwa mainannya adalah boneka. Disini kita tau bahwa tidak ada larangan dari Rasulullah untuk memiliki dan bermain boneka.

Atau dalam hadis yang lain, masih Siti Aisyah yang bercerita,

“Rasulullah Saw pernah tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar Aisyah ditutup dengan kain penutup. Ketika ada angin yang bertiup, kain tersebut tersingkap hingga mainan boneka Aisyah terlihat.

Rasulullah kemudian bertanya, “Wahai Aisyah, apa ini?” Aisyah menjawab, “Itu mainan bonekaku.” Lalu Rasul juga melihat boneka kuda yang memiliki dua sayap. Beliau bertanya lagi, “Sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka kuda.”

(Rasulullah masih penasaran dengan bentuk boneka kuda tersebut) Beliau bertanya kembali, “Lalu yang ada di bagian atasnya itu apa?” Aisyah menjawab, “Dua sayap.” (Dengan heran beliau bertanya lagi, “Kuda mempunyai dua sayap?” Aisyah menjelaskan, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud no. 4932 dan An Nasai dalam Al Kubro no. 890. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Boneka berbeda dengan patung. Oleh karena itu, mayoritas ulama madzhab berpendapat bahwa dibolehkan membuat dan memiliki boneka (mainan anak-anak). Sependapat dengan Imam Nawawi rahimahullah bahwa membuat boneka anak-anak dibolehkan karena ada dalil yang menunjukkan keringanan terkait hal ini, yaitu hadis dari Siti Aisyah yang disebut di atas.

Namun, kebolehan para ulama ada pengecualiannya, boneka tersebut dipakai untuk mendidik anak (Terutama anak perempuan agar lebih penyayang) dan juga sebagai sarana hiburan anak-anak. Bukan untuk disembah apalagi diisi arwah. Cukup dipakai sebagai edukasi dan hiburan seperti yang dilakukan Ria Enes dan bonekanya Suzan. 

Sementara ulama Hambali mensyaratkan kebolehan membuat boneka. Boneka harusnya tidak menyerupai makhluk bernyawa, misalnya anggota badannya dibuat tidak sempurna, tangan tidak ada jarinya, sehingga tidak dianggap bernyawa. Persis seperti boneka milik Siti Aisyah, kuda bersayap yang bentuknya fiktif, tidak ada bentuk realnya dalam kehidupan makhluk bernyawa.