RUANGSUJUD.COM - Syirik adalah dosa paling besar dalam Islam. Saking besarnya, dosa ini tidak akan diampuni jika seseorang meninggal sebelum bertaubat. Pelaku kesyirikan disebut dengan musyrik. 

Pada masa Nabi Muhammad SAW, kaum musyrikin tinggal di Mekkah dan menyembah berhala. Kelompok serupa juga sudah ada pada masa Nabi Ibrahim as, dimana ayah Nabi Ibrahim yang bernama Azar pun adalah pembuat berhala. 

Agama-agama samawi yakni Yahudi, Kristen dan Islam sama-sama menentang kesyirikan. Tiga agama ini sama-sama agama monoteistik, walaupun Kristen agak berbeda dengan konsep trinitasnya. Tiga agama ini sama-sama menentang penyembahan berhala. 

Lantas bagaimanakah sikap kita terhadap orang musyrik? 

Pertama yang perlu kita lakukan adalah mendakwahi mereka. Dakwah artinya mengajak mereka untuk meninggalkan kemusyrikan kepada agama yang benar. Namun dakwah tidak sama dengan pemaksaan. Oleh karena itu, jika dakwah tidak diterima, maka tugas dakwah kita selesai. 

Tugas Allah SWT lah yang berhak menghukum para pelaku kemusyrikan di akhirat. Bukan wewenang kita untuk menghukum mereka di dunia. 

Kedua jika mereka sudah didakwahi lalu masuk Islam, maka kita syukuri. Namun jika mereka menolak, maka tugas kita adalah hidup berdampingan dengan mereka dengan toleran. Dalam Surat Al Kafirun umat Islam diajarkan agar bersikap toleran yakni Lakum Dinukum Wa Liyadin.

Yang tidak boleh adalah melakukan sinkretisme, yakni pencampuran ritual antar agama-agama. Pada mulanya orang Kafir Quraisy mengajak Nabi Muhammad bergantian menyembah Tuhan yang berbeda-beda. Namun Islam secara tegas menolak hal itu. 

Ketiga, mendoakan mereka agar mendapat hidayah. Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT. Paman Nabi Abu Thalib saja tidak berhasil diIslamkan oleh Nabi Muhammad SAW. Apalagi kita yang bukan nabi. Oleh karena itu doa sangat penting sebagai bentuk permohonan agar hidayah datang kepada orang musyrik.