RUANGSUJUD.COM - Ada sebuah kabar yang membuat penulis tak nyaman. Seorang pengamat militer dan intelijen mengatakan bahwa cikal bakal teroris menggunakan bahasa Arab dalam kesehariannya. Bahasa Arab diidentikkan dengan aksi terorisme. 

Pernyataan ini meresahkan diri penulis dan juga sebagian besar umat Islam. Sebagai yang dibesarkan dalam pendidikan pesantren dan menguasai dasar-dasar bahasa Arab, jujur penulis tersinggung dengan pernyataan tersebut. Penulis juga pernah menjadi guru bahasa Arab di pesantren. Yang jelas penulis tak pernah mengajarkan terorisme kepada para santri. 

Dalam klarifikasinya, sang pengamat mengatakan hanya ingin menanamkan patriotisme dan cinta tanah air Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia, penulis pun memiliki rasa nasionalisme. Tapi apakah cara menanamkan nasionalisme harus dengan merendahkan bangsa lainnya? Apakah mempelajari dan menggunakan bahasa Arab berarti tidak nasionalis? 

Mempertentangkan ajaran agama dan nasionalisme sudah ketinggalan zaman. Sebagai seorang yang beragama yang taat, kita percaya bahwa bahasa Arab mempunyai keistimewaan. Namun hal tersebut tidak berarti kita mencampakkan identitas bangsa dan budaya Indonesia. Masing-masing ada tempatnya. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ath Thabrani dari sahabat Ibnu Abbas r.a. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Aku mencintai bahasa Arab karena tiga alasan: karena aku orang Arab, karena Al Qur'an berbahasa Arab dan karena bahasa ahli surga adalah bahasa Arab". Hadits ini cukup menjadi dalil bagi kita mengenai keistimewaan bahasa Arab. 

Di luar keistimewaan tersebut, alasan ilmiah kenapa kita perlu mempelajari bahasa Arab adalah karena khazanah keilmuan Islam tertulis dalam bahasa Arab. Inilah kenapa banyak lembaga pendidikan Islam mengajarkan bahasa Arab. Bukan untuk kearab-araban. Namun untuk kepentingan ilmiah, yakni mengambil keluasan khazanah keilmuan Islam langsung dari sumbernya. 

Ke depan kiranya kita semua perlu lebih hati-hati dalam mengeluarkan sebuah pernyataan. Dalam artian kita perlu memisahkan antara hal yang sifatnya subtantif dengan hal yang sifatnya aksesoris. Substansi dari terorisme adalah kekerasan, pemahaman merasa benar sendiri dan senang mengkafirkan. Sementara jika seorang teroris menggunakan sorban, berbicara bahasa Arab, berteriak takbir, itu merupakan aksesoris. 

Hal-hal yang sifatnya aksesoris jangan dimaknai sebagai substansi. Jika hal ini terjadi, terjadilah sesat pikir seperti pernyataan pengamat di atas. Bahwa bahasa Arab bahasa teroris.