RUANGSUJUD.COM - Sejatinya sifat dasar manusia adalah dinamis. Karena dia diberi tiga nafsu, nafsu mutmainnah, lawwamah dan amarah, yang membuat hatinya tidak tetap dan selalu berubah-ubah. Maka dari itu kita mengenal doa ini, “Wahai Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agamaMu.”

Allah menciptakan nafsu untuk manusia, tidak lain sebagai alat ukur apakah dia layak disebut manusia atau tidak. Sebab ada manusia yang lebih mulia dari malaikat dan ada pula manusia yang lebih buruk dari hewan. Tinggal kita pilih dimana posisi yang kita inginkan?

Untuk menjadi manusia seutuhnya, tentunya tidak diraih secara instan, tapi ada jalan terjal yang harus dilalui. Jalan terjal inilah yang disebut dengan istiqomah. Istiqomah adalah kondisi yang menuntut seseorang untuk jatuh bangun mempertahankan kadar keimanannya agar tetap stabil dan konsisten di jalan lurus (Jalan Allah).

Istiqomah adalah sebuah konsekuensi dari komitmen yang kita buat dengan Allah Swt. Dan istiqomah merupakan wujud nyata dari loyalitas komitmen. Saat seseorang memutuskan untuk beragama, maka hidupnya akan penuh oleh perjalanan dan perjuangan untuk istiqomah.

Manusia tidak pernah tahu kapan ajalnya tiba. Hal yang bisa dilakukan hanyalah mempersiapkan kematian dengan jalan istiqomah. Meski harus tertatih-tatih, titilah istiqomah itu, Allah pasti melihat sebesar apa perjuangan kita saat meraih istiqomah.

Ibnu Abbas ra mengklasifikasikan istiqomah menjadi tiga bentuk. Pertama, istiqomah dalam lisan yaitu bertahan dalam membaca dua kalimat syahadat. Kedua, istiqomah dalam hati yaitu melaksanakan segala sesuatu termasuk ibadah dengan niat yang tulus ikhlas hanya karena ridho Allah. Ketiga, istiqamah dalam jiwa yang berarti terus bertahan dalam ibadah dan taat kepada Allah tanpa henti dan terus menerus.

Bagi orang yang istiqomah, perjalanan itu indah. Rasa terpaksa, malas, mager adalah manusiawi, tapi bagi orang yang istiqomah, perasaan negatif tersebut dihadapi dan dinikmati. Sebab itulah keberkahan Allah datang, terbitlah pelangi setelah hujan, akan hadir keindahan setelah kesulitan.

Lebih jauh lagi, bagi orang yang istiqomah, surga adalah jaminannya. Allah sendiri yang berjanji demikian, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka tetap istiqomah, maka tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Ahqaf: 13-14)