RUANGSUJUD.COM - Serial Layangan Putus sedang viral di media sosial. Meme-meme adegan pertengkaran Kinan dan Aris tokoh utama dalam serial tersebut bertebaran. Dikisahkan bahwa Aris adalah seorang suami yang tega menyelingkuhi pasangannya Kinan. Aris selingkuh dengan Lidya dan mengajaknya ke Capadocia Turki. 

Walau pada awalnya berhasil disembunyikan, namun akhirnya perselingkuhan Aris terbongkar juga. Kinan dibantu oleh teman-temannya berhasil mengumpulkan bukti-bukti kuat. Kinan pun meluapkan kemarahannya. Alih-alih mengakui kesalahannya, Aris malah menuduh Kinan sudah gila. Kinan pun tertekan dan akhirnya kehilangan bayi yang sedang dikandungnya. 

Serial ini kabarnya diangkat dari kisah nyata seorang perempuan dengan nama pena Mommy ASF. Dia membagikan kisahnya di grup facebook Komunitas Bisa Menulis. Suaminya adalah seorang pemilik kanal youtube religi yang sudah mempunya follower yang lumayan banyak. Di dunia nyata, sang istri tiba-tiba ditinggal oleh suaminya ke Turki bersama selingkuhannya. Akhirnya mereka bercerai karena istri tidak dapat lagi menerima perilaku sang suami. 

Setelah dikhianati oleh suaminya, sang istri merasa bagaikan "layangan putus", yang terbang ke sana kemari tak tentu arah. Dia kecewa bahkan depresi dengan kenyataan yang dihadapinya. Inilah asal usul dari perumpamaan layangan putus yang viral akhir-akhir ini. 

Sebagai seorang muslim, tak ada salahnya kita mengambil ibrah dari kisah layangan putus. Karena salah satu ciri dari Ulil Abshar (orang yang berakal) menurut Al Qur'an adalah dapat mengambil pelajaran dari kisah dan peristiwa yang terjadi. 

Tidak ada satupun pasangan yang ingin mengalami apa yang dialami Kinan dan Aris. Sesungguhnya tujuan dari berumah tangga itu adalah mencapai sakinah, mawaddah dan rahmah. Secara sederhana artinya adalah ketenangan, penuh cinta dan kasih sayang. 

Dalam QS. Ar Ruum: 21 Allah SWT berfirman: 

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Ayat di atas adalah gambaran ideal rumah tangga dalam ajaran Islam. Lantas bagaimana cara meraihnya? Tentu saja berawal dari memilih calon pendamping. Ajaran Islam mendorong seorang pemuda atau pemudi agar tidak sembarangan dalam memilih calon pendamping. Melainkan harus dengan berbagai pertimbangan. 

Dalam hadits dari Sahabat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Perempuan dinikahi karena empat alasan; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Maka pilihlah yang karena agamanya, semoga engkau berhasil dan selamat." (HR. Bukhari)

Walaupun dalam hadits disebutkan bahwa laki-laki memilih perempuan berdasarkan 4 pertimbangan, namun tidak salah juga jika perempuan mempertimbangkan laki-laki pilihannya, tidak menerima begitu saja. Soal jodoh yang tepat ini sangat penting. Lebih baik terlambat menikah namun mendapatkan orang yang tepat. Dibanding cepat menikah tapi dengan orang yang salah.

Karena menikah bukanlah lomba lari dimana yang paling cepat dialah yang menang. Menikah adalah "mitsaqan ghaliza" atau perjanjian yang kuat. Tentu saja pintu darurat berupa perceraian tetap dibuka, walaupun perceraian adalah hal halal yang paling dibenci oleh Allah SWT. 

Setelah menikah dengan orang yang tepat, langkah selanjutnya agar rumah tangga tidak menjadi layangan putus adalah komitmen. Baik suami maupun istri mesti komitmen dengan pasangannya. Walaupun di luar sana banyak yang menarik hati kita untuk berpaling, namun ingatlah bahwa kita sudah berkomitmen. Terlalu mahal komitmen yang dibangun jika harus dikhianati karena dorongan nafsu sesaat. 

Akad nikah yang diucapkan jangan sekadar menjadi komitmen bahwa sepasang suami istri telah halal untuk berhubungan seks. Harus lebih dari itu, bahwa akad yang diucapkan juga merupakan komitmen untuk saling menerima satu sama lain. Kelebihan dan kekurangannya. Cerewetnya, pendiamnya, kebiasannya, hobinya, dll.

Terakhir, agar rumah tangga bisa tetap harmonis, yang perlu dipelihara adalah komunikasi. Banyak masalah yang hadir sebenarnya karena masalah mis komunikasi saja. Jika dikomunikasikan, maka bisa diselesaikan. Komunikasi meniscayakan adanya keterbukaan satu sama lain. Keterbukaan meniscayakan adanya kejujuran dari masing-masing pihak, baik suami maupun istri. 

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang bisa dilakukan agar rumah tangga bisa tetap harmonis. Namun tiga hal di atas saya kira cukup untuk dishare dalam tulisan ini.