RUANGSUJUD.COM - Surat Al Hujurat yang artinya kamar-kamar merupakan surat ke-49 dalam Al Qur'an. Surat ini diturunkan di Madinah (Madaniyah). Nama Al Hujurat diambil dari kata al hujurat pada ayat 4 surat ini. Surat Al Hujurat berisi pesan-pesan kebaikan khususnya mengenai etika bergaul seorang muslim. Setidaknya ada 9 pesan pergaulan yang terdapat dalam QS. Al Hujurat. Berikut uraiannya:

1. Meneliti Kebenaran Sebuah Berita (Tabayyun)

Dalam QS. Al Hujurat: 6 dikisahkan bahwa Allah SWT menegur kaum muslimin yang mempercayai begitu saja kabar berita yang dibawa oleh seorang sahabat. Dimana kabar tersebut ternyata tidak benar. Hal ini hampir menyebabkan terjadinya pertumpahan darah antara umat Islam dengan kelompok yang baru masuk Islam. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk bertabayyun saat menerima kabar. 

2. Mendamaikan Dua Orang Yang Berselisih

Pertengkaran atau perseilisihan seringkali tak dapat dihindari dalam pergaulan. Walaupun begitu, seorang mukmin harus mendamaikan dua saudaranya yang sedang berseilisih. Perselisihan berpotensi membawa seseorang ke dalam kehancuran. Perselisihan juga menghambat kemajuan. Oleh karena itu perdamaian mutlak diperlukan. 

3. Berlaku Adil dalam Menyikapi Perselisihan

Perintah untuk berlaku adil banyak ditemukan dalam Al Qur'an. Adil artinya objektif, fair, tidak berat sebelah. Adil juga bermakna proporsional. Bersikap adil akan lebih dekat kepada ketakwaan. 

4. Larangan Saling Mengolok-olok

Dalam QS. Al Hujurat: 10, Allah SWT melarang umat Islam untuk saling mengolok-olok satu sama lain. Boleh jadi yang mengolok-olok tidak lebih baik dibanding yang diolok-olok. Olok-olok juga menimbulkan sakit hati bagi yang diolok-olok. Dalam bahasa masa kini, olok-olok termasuk ke dalam bullying yang bisa membuat kesehatan mental korbannya terganggu. 

5. Larangan Saling Mencela

Sebagaimana mengolok-olok, Al Qur'an juga melarang sesama muslim untuk saling mencela. Celaan tidak menunjukan akhlak yang baik, sebaliknya justru menunjukan buruknya akhlak seseorang. Celaan bisa menyakiti hati orang lain. Celaan tidak membuat pelakunya dilihat baik, melainkan akan dilihat sebagai orang yang berperangai buruk. 

6. Larangan Memanggil Dengan Panggilan Yang Buruk

Islam membolehkan seseorang memberikan gelar atau panggilan yang baik. Misalnya Ali dijuluki Saifullah (Pedang Allah). Umar digelari dengan Sang Pembeda (Al Faruq). Namun Islam melarang pemberian gelar atau panggilan yang buruk. Kecuali kepada orang yang jelas-jelas memusuhi Islam misalnya Abu Jahal. Abu Jahal sendiri merupakan gelar. Nama aslinya Amr bin Hisyam. 

7. Larangan Berprasangka Buruk

Prasangka buruk (suuzhan) sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Prasangka buruk membuat kita curiga terhadap orang lain atas sesuatu yang belum tentu benar. Hal ini rentan membuat hubungan baik dengan saudara kita menjadi renggang. Dalam sebuah hadits, prasangka buruk disebut sebagai sedusta-dustanya perkataan. 

8. Larangan Memata-matai

Setiap orang mempunyai privasi. Privasi ini harus dilindungi dan dihargai. Memata-matai melanggar privasi seseorang. Hal ini juga dilarang agama. Memata-matai seseorang disebut dengan tajassus. Tajassus dilarang karena biasanya bertujuan buruk bahkan untuk mencelakakan orang lain. 

9. Larangan Menggunjing (Ghibah)

Ghibah amat sulit dihindari saat kita mengobrol atau berbincang-bincang dengan rekan atau teman. QS. Al Hujurat ayat 12 mengecam perilaku ghibah sebagai memakan bangkai saudaranya sendiri. Hal ini karena yang dighibahi tidak dapat melawan. Ghibah walaupun yang dibicarakannya benar tetap tidak terpuji. Apalagi jika yang dibicarakannya tidak sesuai kenyataan. Maka akan jatuh kepada fitnah.