RUANGSUJUD.COM - Sebagai makhluk yang tidak sempurna, manusia pasti melakukan kesalahan dan dosa. Jiwa yang dimilikinya pasti dinamis dan berubah-ubah, kadang suci, kadang kotor. Untuk menstabilkan posisi jiwanya tersebut, manusia harus lebih sadar terhadap setiap apa yang dia perbuat. Agar setiap kebaikan yang diperbuat, bisa mempertebal keimanan, mengundang berkah dan tentunya mensucikan dirinya. Juga setiap keburukan yang diperbuat, bisa segera disesali dan ditaubati agar terhindar dari kerugian.

Kesadaran manusia harus mencakup luar dan dalam dirinya. Karena mayoritas manusia lebih fokus pada penampilan dan keadaan dzohirnya, sedangkan keadaan batin atau inner beauty nya seringkali tidak disadari. Padahal jika inner beauty dibiarkan cacat, gimanapun sempurnanya keadaan dzohir, tidak berarti apa-apa. Karena keindahan diri yang sejati itu dari dalam, bukan dari luar.

Saat manusia sadar akan aib dan kekurangan dalam dirinya, disinilah manusia diberi pilihan oleh Allah, apakah jiwanya akan disucikan atau tetap dibiarkan kotor. Jika masih belum sadar, para ulama memiliki 4 cara untuk mendeteksi aib diri dan bagaimana cara memperbaikinya.

  1. Meminta nasihat kepada orang/guru yang sholih dan dekat dengan Allah SWT.

Guru yang sholih dan memiliki kedekatan dengan Allah biasanya dianugerahi bashiroh atau penglihatan yang lebih tajam dari orang lain. Mereka mempunyai intuisi yang kuat, sehingga bisa membaca apa yang tidak terlihat. Utsman bin Affan menyebutnya dengan guru yang punya firasat yang kuat.

Hal ini pernah dipraktekkan oleh seorang ulama besar, yaitu Imam Syafi’i. Diceritakan bahwa suatu hari beliau jalan ke pasar dan secara tidak sengaja melihat aurat seorang perempuan yang tersingkap. Pulang dari pasar, Imam Syafi’i merasa terganggu belajarnya, susah menghafal, susah khusyuk.

Setelah itu, beliau memutuskan untuk meminta nasihat kepada gurunya yang bashirah, yang punya firasat dan kepekaan yang kuat. Beliau pun mengadu kepada Imam Waki’ tentang buruk hafalannya. Imam Waki’ lalu memberinya nasihat: “Ilmu itu cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pendosa.” Seolah-olah Imam Waki’ tahu kalau Imam Syafi’i pernah melakukan dosa di pasar secara tidak sengaja, yang berpengaruh pada hafalannya. Padahal Imam Syafi’i tidak menceritakan secara detail apa sebab hafalannya buruk.

Belajar dari Imam Syafi’i, dengan meminta nasihat kepada guru atau orang yang sholih, kita jadi tau apa aib diri kita dan tahu bagaimana cara memperbaikinya. 

  1. Mencari teman yang bisa berkata jujur dan menyayangi kita karena Allah SWT.

Sebuah mahfudzot mengatakan bahwa sebaik-baiknya teman adalah yang mengarahkan kita pada kebaikan. Teman yang menyayangi kita secara tulus karena Allah SWT biasanya menginginkan kita untuk tetap di jalan Allah, seburuk apapun keadaan kita, dia akan sabar membimbing kita dalam kebaikan.

Seperti kisah Umar bin Khathab yang pernah meminta nasihat kepada Hudzaifah bin Yaman. Kata Umar, “Wahai Hudzaifah, kau tau nama-nama orang munafik karena kau penjaga rahasia nabi. Bolehkah saya tau, apakah saya termasuk orang munafik yang disebutkan nabi?”

Hudzaifah menjawab, “Tidak wahai Amirul Mukminin, kau bukan termasuk orang munafik.” Umar kemudian mendoakan Hudzaifah, “Semoga Allah memberi petunjuk kepada orang yang telah menunjukkan apa kesalahan saya.”

Umar mengajarkan kepada kita agar mencari teman yang bisa menunjukkan aib dan kesalahan kita, bukan teman yang hanya bisa memuji. Karena sejatinya, teman yang baik akan selalu ada saat kita dalam kebaikan maupun keburukan dan mereka setia membantu kita keluar dari keburukan berupa salah dan dosa.

  1. Memperhatikan lisan orang yang membenci kita

Terkadang kata-kata yang dilontarkan oleh orang yang membenci kita, tidak semuanya mengandung kerugian. Jika saja kita melihatnya dari sudut pandang yang lain, ditanggapi secara positif maka yang timbul adalah sebuah nasihat. Misalnya saat orang menuduh kita riya, secara tidak langsung itu menjadi nasihat untuk kita agar lebih berhati-hati lagi dalam beramal.

Kata para ulama, lisan musuh atau orang-orang yang membenci kita adalah sebaik-baiknya nasihat.

  1. Banyak bergaul dan bercermin kepada sesama mukmin

Cara untuk mengetahui aib dan kekurangan diri yang paling mudah pendeteksiannya adalah dengan bergaul. Karena dengan bergaul, kita akan tahu sebanyak apa orang yang merasa nyaman dan tidak nyaman dengan kita. Saat ada yang tidak nyaman dengan kita, introspeksilah, aib kita yang mana yang menjadi penyebab ketidaknyamanan tersebut.

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda: “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”
Kalau kita bergaul dengan orang shalih dan mereka merasa nyaman dengan kita, maka kita bisa jadi termasuk golongan mereka. Tapi, kalau orang shalih tidak nyaman dengan kita, kita harus bercermin dari mereka, jangan-jangan ada aib yang harus kita perbaiki.