RUANGSUJUD.COM - Dakwah adalah salah satu pondasi agama Islam. Tanpa dakwah, boleh jadi hari ini kita tidak beragama Islam. Dengan dakwah, ajaran Islam menyebar dari sebuah tempat yang tidak dikenal bernama Mekkah ke seluruh penjuru dunia. 

Dakwah adalah tugas utama para nabi dan Rasul. Karena aktifitas dakwah para nabi dan Rasul mengalami berbagai ujian. Jika seorang nabi dan Rasul tidak berdakwah, boleh jadi mereka hidup nyaman. Namun ujian dakwah membuat mereka harus menghadapi tantangan dan kesulitan yang berat. 

Tak hanya memerintahkan untuk berdakwah, Al Qur'an juga memberikan petunjuk bagaimana cara dakwah yang benar. Hal ini difirmankan oleh Allah SWT pada QS. An Nahl: 125: 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT memberikan 3 tuntunan cara berdakwah, yakni dengan hikmah, pengajaran yang baik dan berdebat dengan cara yang baik. Apa maksudnya? 

Dalam Kitab Tafsir Jalalayn karangan Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi, disebutkan bahwa tafsir ayat tersebut adalah: 

(Serulah) manusia, hai Muhammad (kepada jalan Rabbmu) yakni agama-Nya (dengan hikmah) dengan Alquran (dan pelajaran yang baik) pelajaran yang baik atau nasihat yang lembut (dan bantahlah mereka dengan cara) bantahan (yang baik) seperti menyeru mereka untuk menyembah Allah dengan menampilkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran-Nya atau dengan hujah-hujah yang jelas. (Sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang lebih mengetahui) Maha Mengetahui (tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) maka Dia membalas mereka. 

Adapun menurut Prof. Quraish Shihab, tafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut: 

Wahai Nabi, ajaklah manusia meniti jalan kebenaran yang diperintahkan oleh Tuhanmu. Pilihlah jalan dakwah terbaik yang sesuai dengan kondisi manusia. Ajaklah kaum cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi untuk berdialog dengan kata-kata bijak, sesuai dengan tingkat kepandaian mereka.

Terhadap kaum awam, ajaklah mereka dengan memberikan nasihat dan perumpamaan yang sesuai dengan taraf mereka sehingga mereka sampai kepada kebenaran melalui jalan terdekat yang paling cocok untuk mereka. Debatlah Ahl al-Kitâb yang menganut agama-agama terdahulu dengan logika dan retorika yang halus, melalui perdebatan yang baik, lepas dari kekerasan dan umpatan agar mereka puas dan menerima dengan lapang dada.

Itulah metode berdakwah yang benar kepada agama Allah sesuai dengan kecenderungan setiap manusia. Tempuhlah cara itu dalam menghadapi mereka. Sesudah itu serahkan urusan mereka pada Allah yang Maha Mengetahui siapa yang larut dalam kesesatan dan menjauhkan diri dari jalan keselamatan, dan siapa yang sehat jiwanya lalu mendapat petunjuk dan beriman dengan apa yang kamu bawa.

Dalam Kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir karya Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar beliau menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

(Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu) Jalan Allah yakni agama Islam. )Dengan hikmah) Yakni dengan ucapan yang benar dan mengandung hikmah. Pendapat lain mengatakan, yakni dengan bukti-bukti yang menimbulkan keyakinan. ( dan pelajaran yang baik) Yakni ucapan yang baik dan indah bagi pendengarnya yang meresap ke dalam hati sehingga dapat meyakinkannya dan menjadikannya mau untuk mengamalkannya. ( dan bantahlah mereka dengan cara yang baik) Yakni dengan cara terbaik dalam berdebat.