RUANGSUJUD.COM - Baru-baru ini heboh sebuah peristiwa di Lumajang dimana seorang pemuda menendang sesaji yang ditaruh di sekitar Gunung Semeru. Aksi tersebut direkam dalam sebuah video dan disebarluaskan ke publik. Dalam aksinya, motif pemuda tersebut adalah keyakinan bahwa sesaji merupakan hal yang terlarang dalam agama. 

Belum begitu jelas siapa yang meletakkan sesaji di sana. Apakah orang Islam sendiri atau orang yang beragama Hindu. Sebagian besar dari umat Islam sendiri mengecam perbuatan pemuda itu kepada sesaji. Alasannya perbuatan tersebut tidak bijak dan bisa memecah belah persatuan bangsa. Sikap pemuda tersebut memang patut dikritisi. Namun hukum sesaji tetaplah haram. 

Setidaknya ada 3 alasan mengapa dalam Islam sesaji dilarang:

1. Rentan Terjerumus ke Dalam Kesyirikan

Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan makhluknya. Membuat sesaji artinya percaya bahwa ada zat lain selain Allah yang dapat memberi manusia keberuntungan atau kesialan. Kekuatan ini agar bisa memberi keberuntungan, maka disogok oleh sesaji. 

Ada sebagian muslim yang berlandaskan kepada pendapat ulama. Bahwa sesaji jika dibuat bukan bermaksud meminta tolong kepada selain Allah SWT hukumnya boleh. Namun kita lebih baik berhati-hati dari hal yang rentan terjerumus ke dalam kemusyrikan.

Dalam QS. Luqman: 13 Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

2. Tidak Dicontohkan oleh Rasulullah SAW

Oleh pelakunya, sesaji dianggap sebagai bagian dari ritual ibadah. Sementara dalam Islam, ibadah mahdhah harus mempunyai dalil yang kuat atau shahih. Sementara itu sesaji alih-alih diperintahkan, justru dilarang oleh mayoritas umat Islam. 

Memang dalam Islam ada syariat berupa kurban. Namun kurban dagingnya dibagi-bagi kepada masyarakat sehingga menimbulkan pemerataan makanan di masyarakat. Sebaliknya sesajen makannya diletakkan begitu saja. Tidak jelas apakah nanti akan dimakan hewan atau membusuk. 

Rasulullah SAW bersabda: Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat (HR. Abu Dawud)

3. Mengandung Perbuatan Mubadzir

Sesaji mengandung kemubadziran karena seolah kita membuang-buang makanan. Tidak jelas siapakah yang akan memakan sesaji kita. Padahal jika makanan itu diberikan kepada anak yatim atau fakir miskin, akan jauh lebih bermanfaat. 

Dalam QS. Al Isra: 27 Allah SWT berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.