Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hikmah

Kerendahan Hati dan Syukur dalam Beramal Saleh

Amal sholeh adalah anugerah Allah. Mukmin harus rendah hati, bersyukur, dan tidak berpuas diri. Sadari kecilnya amal di hadapan Allah, serahkan hasilnya dengan harap dan cemas.

RuangSujud.com – Dalam setiap langkah kebaikan yang kita ukir, setiap sujud yang kita lantunkan, seringkali hati kita digelayuti pertanyaan: sudah cukupkah amal ini? Benarkah kita telah beribadah dengan sebaik-baiknya? Sesungguhnya, perjalanan seorang mukmin dalam meniti jalan ketaatan adalah sebuah pelajaran panjang tentang kerendahan hati, rasa syukur, dan kesadaran akan keagungan Allah SWT yang tiada tara.

Penting bagi kita untuk selalu menyadari bahwa setiap kebaikan, setiap amal shalih yang terlahir dari diri kita, bukanlah semata hasil dari kekuatan atau kemauan kita sendiri. Melainkan, ia adalah anugerah murni, taufik, dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53). Kesadaran ini menuntun kita pada rasa syukur yang mendalam, bukan kesombongan.

Dengan taufik dari-Nya, kita diarahkan menuju kebaikan. Dengan karunia-Nya, kita dimampukan untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita senantiasa merendahkan hati, tidak silau dengan banyaknya amal yang telah kita lakukan. Ingatlah selalu, di luar sana mungkin banyak ahli ibadah lain yang lebih gigih, lebih tulus, dan lebih banyak meraih pahala dari kita. Rasa syukur adalah perisai dari ujub dan riya, menjadikan hati kita lebih lapang menerima hidayah, membenci kefasikan, dan teguh dalam meniti jalan lurus yang diridhai-Nya.

Betapa besar pun pahala yang kita rasakan telah kita kumpulkan, kelak di Hari Kiamat, ia bisa terasa begitu kecil di hadapan kebesaran Allah dan dahsyatnya hari perhitungan. Para ulama terdahulu mengajarkan kita bahwa kesadaran ini penting, bukan untuk mengecilkan amal, melainkan untuk melipatgandakan ketulusan. Sahabat mulia Muhammad bin Umairah pernah berkata, “Seandainya seorang hamba diseret dengan wajah tertelungkup dari hari kelahirannya sampai dia mati tua dalam ketaatan kepada Allah, niscaya hal itu adalah remeh baginya pada hari itu, dan niscaya dia ingin kembali ke dunia demi meraih balasan pahala yang lebih banyak.” Ini menunjukkan betapa agungnya hak Allah atas hamba-Nya.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar, mengingatkan kita, “Barangsiapa mengetahui Allah dan hak-Nya serta konsekuensi ibadah karena keagungan-Nya, niscaya dia merasa kebaikan-kebaikannya begitu sedikit dan tidak berarti apa-apa di sisi-Nya.” Semakin kita mengenal Allah, semakin kita menyadari betapa terbatasnya upaya kita dibandingkan dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Ini mendorong kita untuk terus beramal, bukan karena ingin menunjukkan banyaknya, tetapi karena dahaga akan ridha-Nya dan pengakuan akan kecilnya diri.

Maka, janganlah pernah berpuas diri atau terlalu percaya dengan banyaknya amal. Sesungguhnya, kita tidak pernah bisa memastikan apakah amal-amal itu diterima atau ditolak oleh Allah. Ibnu Aun berpesan, “Jangan terlalu mengandalkan banyaknya amal, karena Anda tidak mengetahui apakah itu diterima atau ditolak.” Hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Aisyah tentang mereka yang berpuasa, shalat, dan sedekah namun hatinya takut, menegaskan bahwa sikap seorang mukmin sejati adalah senantiasa beramal dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah, seraya berharap dan khawatir. Semoga Allah menerima setiap ikhtiar kebaikan kita dan menggolongkan kita ke dalam hamba-Nya yang bersyukur dan bertaqwa.

Robby Karman
Ditulis oleh

Penulis, Peminat Kajian Sosial dan Keagamaan.

Klik untuk berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel terkait

Hikmah

Era digital membawa kemajuan teknologi yang luar biasa, namun juga membawa tantangan baru bagi umat Islam dalam menjaga dan meningkatkan ketakwaan. Di tengah arus...

Kajian

Metode tafsir maudhu’i, juga dikenal sebagai metode tematik, adalah cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki maksud yang sama, membahas topik yang sama, dan menyusunnya...

Hikmah

Surat Al-Muzammil adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang memiliki keutamaan dan hikmah yang mendalam. Dengan judul yang berarti “Orang yang Berselimut,” surat ini...

Hikmah

Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, tidak hanya relevan dalam konteks sejarahnya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang dinamis dan beragam zaman modern. Ajaran-ajaran...