RuangSujud.com – Imagine, di tengah kemegahan Masjid Umayyah yang penuh sejarah di Damaskus, bersemayamlah kearifan dan kesederhanaan yang tak terduga. Pada suatu masa, Imam Al-Ghazali, sang Hujjatul Islam yang agung, memilih duduk di pelataran masjid itu dengan busana sederhana, seolah tak lebih dari seorang musafir biasa. Di sekitar beliau, para mufti terkemuka dengan jubah kebesarannya turut berkumpul, berdiskusi, dan berbagi ilmu.
Ketika seorang lelaki desa datang dengan gurat kebingungan di wajahnya, ia mendekat kepada majelis ilmu, membawa sebuah pertanyaan hukum yang mendesak. Namun, meski para mufti besar telah mendengar pertanyaannya, tak seorang pun dari mereka mampu memberikan jawaban yang melegakan hati si penanya. Tatkala pandangannya beralih dan menangkap sosok sederhana Imam Al-Ghazali, ia pun memberanikan diri mengalihkan pertanyaannya kepada sang fakir.
Dengan tenang dan penuh hikmah, Imam Al-Ghazali menjawab pertanyaan tersebut dengan penjelasan yang gamblang dan memuaskan. Takjub dan terheran-heran, lelaki desa itu pun berseru, “Sungguh mengherankan, para mufti besar tak mampu menjawab pertanyaanku, sedangkan orang yang terlihat miskin dan tak berilmu ini justru memberiku jawaban!” Sontak, pandangan para mufti yang sebelumnya diam pun tertuju pada sosok yang baru saja memberikan pencerahan itu, mengawali terkuaknya sebuah rahasia besar.
Terusik oleh keheranan lelaki desa dan kejelasan jawaban yang diberikan, para mufti itu pun mendekat, melingkari Imam Al-Ghazali, dan bertanya, “Apakah gerangan yang telah engkau sampaikan kepada saudara kami ini?” Dari sanalah, tirai penyamaran Imam Al-Ghazali akhirnya terbuka. Mereka mengenalinya sebagai ulama besar yang ketawadhuan dan kedalaman ilmunya tak diragukan. Seketika itu pula, rasa hormat menyelimuti hati mereka, dan para mufti meminta beliau untuk berkenan menggelar majelis ilmu, agar mereka dapat menyelami samudra pengetahuannya.
Namun, di sinilah puncak keteladanan yang tak ternilai. Menjelang malam hari itu juga, Imam Al-Ghazali mengambil keputusan yang mengejutkan: beliau segera bersafar meninggalkan Damaskus. Bukan karena takut akan pengakuan atau pujian, melainkan karena kekhawatiran yang mendalam akan datangnya penyakit hati, yaitu ‘ujub’ atau perasaan bangga diri yang bisa menyelinap tanpa disadari. Beliau sadar bahwa sanjungan dapat menjadi ujian terberat bagi seorang hamba yang berusaha ikhlas, dan menjaga kemurnian hati dari ujub adalah perjuangan yang tiada henti.
Kisah Imam Al-Ghazali ini mengingatkan kita akan hakikat ilmu dan keikhlasan. Ilmu sejati tidak terpancar dari pakaian atau kedudukan, melainkan dari kedalaman hati yang tunduk pada Allah. Lebih dari itu, ia mengajarkan bahwa setiap pujian dan pengakuan haruslah disikapi dengan kewaspadaan, agar hati senantiasa terjaga dari ujub yang dapat merusak amal dan memalingkan tujuan. Semoga Allah membimbing kita untuk selalu merendahkan hati, mencari ridha-Nya semata, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kebanggaan diri.