Ruang Sujud

Bacaan dan Waktu Utama untuk Tasbih: Panduan Praktis bagi Muslim

Tasbih merupakan salah satu dzikir utama dalam Islam, yang dilakukan dengan mengucapkan kalimat “Subhanallah” sebagai bentuk penyucian terhadap Allah dari segala kekurangan. Dzikir ini tidak hanya dapat dilakukan kapan saja, tapi juga memiliki waktu-waktu yang sangat dianjurkan agar manfaatnya lebih terasa secara spiritual. Memahami bacaan dan waktu utama untuk bertasbih sangat penting agar kita bisa menjadikannya bagian dari rutinitas harian.

Bacaan tasbih yang paling dasar adalah “Subhanallah”, yang artinya “Maha Suci Allah.” Dalam praktiknya, kalimat ini sering digabungkan dengan pujian lainnya, seperti dalam bacaan:

“Subhanallah wa bihamdih” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya)

“Subhanallahil ‘azhim” (Maha Suci Allah yang Maha Agung)

Gabungan ini digunakan dalam banyak dzikir harian, termasuk dalam dzikir pagi-sore dan setelah salat wajib.

Salah satu waktu terbaik untuk bertasbih adalah setelah salat fardhu. Rasulullah SAW mengajarkan untuk membaca “Subhanallah” sebanyak 33 kali setelah salat, bersama dengan tahmid dan takbir, sehingga totalnya menjadi 99. Ini merupakan wirid sederhana yang sangat dianjurkan dan dikenal sebagai dzikir tasbih tahlil. Sebagian ulama bahkan menambahkan bacaan ke-100 sebagai penutup: “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”

Waktu pagi dan sore hari juga sangat dianjurkan untuk bertasbih, terutama sebagai bagian dari dzikir harian yang diajarkan Nabi. Tasbih di waktu pagi membantu menenangkan hati sebelum memulai aktivitas, sementara tasbih di sore hari menjadi penutup yang menenangkan setelah seharian berjuang menghadapi berbagai urusan dunia.

Tasbih juga dianjurkan saat bangun tidur. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengajarkan doa bangun tidur yang diawali dengan pujian: “Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur”. Meskipun ini bukan lafaz tasbih langsung, kebiasaan membuka hari dengan dzikir adalah cara ideal untuk menjaga hati tetap dekat dengan Allah, dan tasbih bisa menjadi bagian dari rutinitas tersebut.

Waktu lain yang sangat istimewa untuk tasbih adalah di tengah malam atau saat qiyamul lail. Di momen hening ini, dzikir kepada Allah terasa lebih khusyuk, dan tasbih bisa menjadi pembuka atau pengiring salat malam. Kalimat “Subhanallah” yang diucapkan dengan hati bersih akan menjadi penenang jiwa dan sumber energi spiritual yang mendalam.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tasbih juga tidak terbatas pada waktu-waktu formal. Ketika menyaksikan sesuatu yang menakjubkan, saat merasa takut, atau ketika terhindar dari musibah, kita dianjurkan bertasbih. Misalnya, saat melihat pemandangan indah, kita bisa spontan berkata “Subhanallah!” sebagai bentuk pengakuan akan kebesaran ciptaan-Nya.

Dengan memahami waktu-waktu utama ini, kita bisa mengintegrasikan tasbih dalam keseharian, baik di sela-sela aktivitas maupun di waktu ibadah khusus. Tidak ada batasan tempat dan keadaan, selama hati kita hadir dan lisan kita sadar akan makna dari kalimat tersebut. Karena sejatinya, tasbih bukan hanya dzikir di bibir, tapi cara hidup seorang Muslim yang selalu menyucikan Allah dalam segala keadaan.

Exit mobile version