Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hikmah

Rahasia Di Balik Usia 40 Tahun

ORANG bilang bahwa 40 tahun merupakan usia puber kedua. Namun ada pula yang membantahnya, karena puber kedua hanyalah opini dan bukan fakta.

Usia 40 tahun memang spesifik disebutkan dalam QS. Al-Ahqaf: 15. Di dalam buku “Al Ayyamu Al Akhirotu min Ayyami Rasulillah”, Syaikh ‘Adil bin Hasan bin Yusuf al-Hamad menjelaskan bahwa menurut Ibnu Katsir, kalimat ( وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً) ‘dan telah mencapai 40 tahun’ yaitu matang akalnya, sempurna pemahaman dan kelembutannya. Dikatakan pula bahwa mayoritas yang usianya 40 tahun, karakternya sudah baku dan tidak akan berubah lagi seperti sebelum usia 40 tahun.

Abu Bakar bin ‘Iyasy dari al-A’masy dari al-Qasim bin ‘Abdurrahman berkata,

Aku bertanya kepada Masruq: “Kapankah seseorang akan dihukum dengan dosa-dosanya?”

Ia berkata, “Apabila engkau telah mencapai usia 40 tahun, maka berhati-hatilah! Ini merupakan petunjuk bagi orang yang telah mencapai usia 40 tahun agar senantiasa memperbaharui taubatnya dan kembali kepada Allah serta berkeinginan kuat untuk melakukannya.”

Syaikh ‘Adil pun mengutip penjelasan asy-Syahid Syaikh Sayyid Quthb, beliau menyampaikan bahwa usia 40 tahun merupakan puncak dari kematangan dan kedewasaan seseorang. Pada usia ini, puncak kesempurnaan dari kekuatan dan kemampuan seorang manusia. Sehingga manusia memiliki kesiapan untuk bertadabbur (merenung) dan bertafakkur (berpikir matang) dengan sempurna dan tenang. Fithrah yang lurus pada usia ini mengarah kepada apa yang ada di balik kehidupan dan apa yang ada setelah kehidupan di dunia ini, serta mentadabburi tempat kembali serta balasan perbuatan.

Barang siapa yang usianya telah mencapai 40 tahun, hendaknya ia meninggalkan perbuatan-perbuatan aib yang memalukan, dikarenakan ini merupakan perbuatan yang diharamkan, serta tidak layak dilakukan pada usia ini. Yang tergambar oleh manusia bahwa pada usia ini adalah cermat berpikir dalam setiap perbuatannya.

Barangsiapa melakukan perbuatan bodoh pada usia ini, maka ia tidak mengambil manfaat dari peringatan awal ini. Oleh karena itu, apabila manusia sampai usia 40 tahun, namun ia belum mampu mengambil pelajaran dari hidupnya maka ia tidak memiliki udzur di hadapan Allah.

Nabi Saw bersabda,

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Allah memberi udzur kepada seseorang dengan cara mengakhirkan ajalnya hingga memperpanjang usianya sampai pada usia 60 tahun.” (HR. Bukhari)

Ia tak lagi memiliki alasan dengan mengatakan jika Engkau memperpanjang usiaku maka aku akan melaksanakan perintah-Mu. Maka akan dikatakan kepadanya bahwa Allah Swt telah memberikan udzur kepadanya sehingga memberikan kesempatan padanya untuk bisa mencapai usia maksimal sehingga memungkinkan baginya untuk melakukan kebaikan. Apabila ia tidak memiliki alasan untuk meninggalkan ketaatan kepada Allah, padahap ia mendapatkan usia yang cukup, maka tidak pantas baginya ketika itu selain senantiasa beristighfar dan taat serta bersiap diri menuju Akhirat secara total.

Allah Swt berfirman,

“Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (TQS Fathir: 37)

Yang dimaksud takaran usia dalam ayat ini adalah usia 60 tahun sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas r.a. dan dirajihkan oleh Ibnu Katsir.
Maknanya, bukankah kami telah memberikan umur panjang kepada kalian wahai kaum musyrik Quraisy selama

bertahun-tahun, namun mengapa tidak ada dari kalian yang mengingat seperti mengingatnya orang-orang yang berakal dan berpikir, mengambil pelajaran dan bertaubat, padahal telah datang dari Allah kepada kalian seorang pemberi peringatan dari siksa Allah. Tetapi kalian tidak mememdulikan nasihat-nasihat Allah, kalian pun tidak menerima orang yang memberikan peringatan dari orang yang Allah telah utus kepada kalian. Bukankah kalian hidup di dunia selama bertahun-tahun? Seandainya kaliam termasuk orang yang mengambil manfaat terhadap kebenaran maka kalian akan mengambil manfaat darinya sepanjang hidup kalian. []

Emilia Rahmah
Written By

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel terkait

Kajian

Metode tafsir maudhu’i, juga dikenal sebagai metode tematik, adalah cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki maksud yang sama, membahas topik yang sama, dan menyusunnya...

Hikmah

Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi yang terkenal dalam sejarah Islam, dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang tajam dan mendalam. Nasihat-nasihatnya tidak hanya mengingatkan kita tentang...

Kajian

KITA TAHU negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim saat ini rata-rata tertinggal dari negara-negara dari negara Eropa atau Asia Timur. Hal ini...

Kabar

RUANGSUJUD.COM – Nama Nupur Sharma mendadak menjadi perbincangan publik. Pernyataan petinggi partai penguasa, Bharatya Janata Party (BJP) membuat kontroversi. Dalam sebuah debat di media Times Now, Sharma...