Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kajian

Awal Mula Umat Islam Mundur dan Tertinggal

Ilustrasi Foto/ The Borgen Project

KITA TAHU negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim saat ini rata-rata tertinggal dari negara-negara dari negara Eropa atau Asia Timur.

Hal ini dilihat ukuran objektif seperti jumlah konflik dan kekerasan, kualitas demokrasi, pembangunan ekonomi, pendidikan dan keilmuan, serta usia harapan hidup.

Kondisi ini menjadi ironi, karena secara ajaran dan nilai, Islam mengehendaki ummatnya untuk maju dengan perilaku disiplin, kerja keras, dan pantang menyerah agar menjadi umat terbaik.

Kenyataan ini ditambah dengan pengalaman sejarah bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia, yang menguasai sains dan teknologi, dan berbagai ilmu pengetahuan.

Lalu, mengapa peradaban Islam yang dulu maju itu kemudian terhenti sampai mengalami ketertinggalan seperti saat ini?.

Jika ada satu pendapat bahwa umat Islam tidak cocok dengan kemajuan, dan karenanya orang-orang Islam saat ini tertinggal, jelas hal ini salah besar, karena umat Islam dahulu pernah mengalami kejayaan peradaban, dan Islam sendiri tetap ada dan menjadi bagian dari masyarakat.

Kita kembali melihat ke rumah sejarah bukan untuk meromantisasi masa lalu, namun sekedar gambaran betapa maju dan gemilangnya dunia muslim di masa Abbasiyah pada abad ke-8 sampai ke-12 masehi.

Zaman itu dianggap sebagai zaman keemasan peradaban Islam, karena negara-negara muslim mengalami kemajuan pesat.

Perdagangan dunia berpusat di Timur Tengah, sains dan teknologi dikembangkan, karya ilmu dan filsafat masa lalu dari Yunani, Persia dan India, dikumpulkan lalu diterjemahkan, kota-kotanya teratur dan penduduk hidup sejahtera.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sementara peradaban barat mengalami keterpurukan setelah keruntuhan Romawi. Taraf hidup menurun, kekerasan meningkat, dan keilmuan mereka mandek. Ini tentu sangat berbanding terbalik dengan kondisi saat ini.

Persekutuan Ulama dan Negara

Ahmet Kuru dalam buku Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan, menyebut bahwa kemunduran Islam justru disebabkan adanya persekutuan ulama dan negara. Bagaimana bisa?

Kuru menjelaskan, bahwa ulama merupakan pihak yang sangat berpengaruh besar di peradaban Islam. Meski saat ini lebih banyak dianggap sebagai ahli dalam ilmu agama Islam, dahulu ulama merupakan kategori lebih luas mencakup ahli dalam ilmu-ilmu lain termasuk sains, teknologi, filsafat, bahasa, ilmu sosial dan lain-lain.

Ilustrasi Foto/ Wikimedia Commons

Sebagai suatu peradaban, para ulama menjadi penggerak masyarakat sebagai tokoh-tokoh yang memajukan pengetahuan.

Para ulama itu mulanya independen, yakni tidak terikat negara, dan membiayai hidup dengan bekerja mandiri dalam perdagangan dan industri.

Dulu, ulama juga menolak bantuan dari Penguasa dan lebih dekat dengan kelompok pedagang maupun pengusaha.

Suasana itu mendorong kemajuan di banyak bidang ilmu pengetahuan, yang pada gilirannya mendukung ekonomi dan kemajuan peradaban.

Di masa itu, buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis Muslim menjadi rujukan di dunia barat hingga berabad-abad.

Selain di bidang sains, ilmu-ilmu keagamaan yang penting juga lahir di masa keemasan Islam Abbasiyah. Seperti penulisan kitab-kitab hadits dan dibangunnya dasar-dasar 4 mazhab hukum Islam aliran Ahlussunnah.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Namun kemajuan itu mulai berangsur menurun sejak abad ke-11. Hal ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, bangkitnya kekhalifahan tandingan, yakni Dinasti Fathimiyah bagi kekhalifahan Abbasiyah.

Kedua, serangan dari pihak luar yaitu bangsa Mongol dari timur dan tentara Salib dari Barat. Semua tekanan ini membuat Penguasa dan rakyat khawatir.

Nah, kekhawatiran soal keamanan ini membuat penguasa mengutamakan persatuan dan ketahanan negara, dengan mengorbankan keragaman dan dinamisme.

Akhirnya penguasa makin bersifat otoriter, dan untuk legitimasi, penguasa merangkul kaum ulama konservatif. Mereka disediakan fasilitas berupa jabatan, gaji tinggi dan sekolah. Juga menjadikan aliran tertentu sebagai aliran resmi negara sekaligus untuk menekan aliran yang lain.

Langkah ini sebenarnya wajar ketika negara maupun masyarakat Islam saat itu dalam posisi terancam.

Namun efek sampingnya adalah, mengurangi iklim kebebasan berpendapat dan berpikir, serta mengubah struktur ekonomi dari perdagangan, ke ekonomi militer berdasarkan penaklukan.

Buntutnya, pemikiran keagamaan makin konservatif, keterbukaan terhadap gagasan dari luar digantikan ketidaksukaan terhadap filsafat dan kesukaan terhadap keberagaman yang sumbu pendek.

Sedangkan negara menjadi makin militeristik dan mengutamakan penaklukan. Akhirnya, teknologi yang dianggap penting hanya yang berhubungan dengan militer, seperti senjata untuk keperluan perang.

Hal itu kemudian diikuti oleh kerajaan-kerajaan Islam setelah Abbasiyah runtuh. Misalnya ketika muncul negara-negara kuat seperti Turki Usmani, Mughal di India, dan Syafawi di Persia.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Negara-negara itu kuat dalam bidang militer dan memiliki wilayah kekuasaan yang luas, namun tidak pernah bisa mengalahkan peradaban Barat yang mengalami kemajuan pesat dibidang sains, teknologi dan ekonomi.

Peradaban muslim tidak pernah meraih kembali keunggulannya hingga zaman modern. Bahkan negara-negara muslim jadi melemah, dan beberapa bahkan dikuasai negara Eropa.

Walaupun mulai ada pembaruan pemikiran Islam pada abad ke-20, namun itu entah ke arah modernis atau kembali masa lalu.

Negara-negara muslim yang baru ada pada abad ke-20 pun belum sepenuhnya lepas dari ketertinggalan. Banyak yang masih bersifat otoriter.

Penemuan sumber daya alam seperti minyak dan barang tambang memberi kekayaan, tapi tidak mengubah watak otoriter.

Karena pemasukan negara bukan dari pajak, membuat negara merasa tidak perlu lebih melibatkan rakyatnya. Dalam pemerintahan, rakyat negara-negara muslim juga belum terbiasa dengan sistem demokrasi.

Tak hanya itu, terkadang juga mengalami konflik akibat masalah kesukuan dan perbedaan aliran agama.

Bagaimana agar umat Islam bangkit kembali?

Ahmet Kuru menyatakan, dunia Islam memiliki tradisi keilmuan dan keterbukaan yang bagus, tapi terlupakan selama ratusan tahun.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Umat Islam zaman sekarang tidak perlu meninggalkan Islam dan menjadi Barat atau sekuler guna mencapai kemajuan. Namun caranya juga bukan dengan sekedar Islamisasi di segala bidang. Karena gerakan semacam ini biasanya hanya mengubah tampilan luar tanpa menyentuh pokok persoalan.

Gerakan Islamisasi juga bisa-bisa hanya memperpanjang otoritarianisme dan persekutuan ulama dan negara yang menjadi akar kemandekan.

Ilustrasi Foto/Maven Business Consultacy

Ahmed Kuru menyerukan agar suasana keilmuan dan keterbukaan pada zaman keemasan peradaban Islam dikembalikan. Artinya mengakhiri persekutuan ulama dan negara otoriter, mengembalikan ulama ke posisi independen dan mandiri.

Serta juga membangun kembali kelas pedagang atau pengusaha muslim sebagai mitra ulama dalam membangun peradaban.

Diharapkan hal itu dapat membantu umat Islam mengejar ketertinggalan dan bisa mengimbangi peradaban barat dan Asia Timur dalam kesejahteraan bersama.

Meski negara-negara muslim sekarang terpuruk, umat Islam mesti tahu bahwa dulu mereka punya tradisi bagus dalam membangun peradaban yang maju. Wallahu A’lam.

Faisal Maarif
Written By

Penulis, Konten Kreator, dan Peminat Sejarah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel terkait

Kajian

Metode tafsir maudhu’i, juga dikenal sebagai metode tematik, adalah cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki maksud yang sama, membahas topik yang sama, dan menyusunnya...

Hikmah

Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi yang terkenal dalam sejarah Islam, dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang tajam dan mendalam. Nasihat-nasihatnya tidak hanya mengingatkan kita tentang...

Kabar

RUANGSUJUD.COM – Nama Nupur Sharma mendadak menjadi perbincangan publik. Pernyataan petinggi partai penguasa, Bharatya Janata Party (BJP) membuat kontroversi. Dalam sebuah debat di media Times Now, Sharma...

Opini

RUANGSUJUD.COMĀ – Bagi kita semua kata taqwa tentu sudah bukan menjadi suatu yang asing, kata yang berasal dari Bahasa arab ini sudah melebur dalam tradisi...