Tujuan dan Manfaat Berzakat

Tujuan dan Manfaat Berzakat
Ilustrasi foto/Net

TUJUAN zakat dan dampaknya bagi pribadi dapat dipisahkan antara pribadi muzakki (pemberi) dan mustahik (penerima).  Zakat bukan bertujuan sekadar untuk memenuhi baitul maal dan menolong orang yang lemah dari kejatuhan yang semakin parah. Tapi tujuan utamanya ialah agar manusia lebih tinggi nilainya daripada harta, sehingga manusia menjadi tuannya harta bukan menjadikan budaknya. Dengan demikian kepentingan tujuan zakat terhadap si pemberi sama dengan kepentingannya terhadap si penerima.

Beberapa tujuan dan dampak zakat bagi muzakki ialah zakat mensucikan jiwa dari sifat kikir, zakat yang dikeluarkan karena ketaatan pada Allah akan mensucikannya jiwa (QS. 9:103) dari segala kotoran dan dosa, dan terutama kotornya sifat kikir. Penyakit kikir ini telah menjadi tabiat manusia (QS. 17:100), yang juga diperingatkan Rasulullah SAW sebagai penyakit yang dapat merusak manusia (HR.Thabrani), dan penyakit yang dapat memutuskan tali persaudaraan (HR. Abu Daud dan Nasai). Sehingga alangkah berbahagianya orang yang bisa menghilangkan kekikiran. “Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. 64:16).

Zakat yang mensucikan dari sifat kikir ditentukan oleh kemurahannya dan kegembiraan ketika mengeluarkan harta semata karena Allah. Zakat yang mensucikan jiwa juga berfungsi membebaskan jiwa manusia dari ketergantungan dan ketundukan terhadap harta benda dan dari kecelakaan menyembah harta. Zakat mendidik berinfak dan memberi, berinfak dan memberi adalah suatu akhlaq yang sangat dipuji dalam Al Qur'an, yang selalu dikaitkan dengan keimanan dan ketaqwaan (QS.42:36-38).

Orang yang terdidik untuk siap menginfakan harta sebagai bukti kasih sayang kepada saudaranya dalam rangka kemaslahatan ummat, tentunya akan sangat jauh sekali dari keinginan mengambil harta orang lain dengan merampas dan mencuri (juga korupsi). Berakhlak dengan Akhlak  Allah, apabila manusia telah suci dari kikir dan bakhil, dan sudah siap memberi dan berinfak, maka ia telah mendekatkan akhlaqnya dengan sifat Allah yang Maha Pengasih.

Zakat merupakan manifestasi syukur atas Nikmat Allah, serta zakat mengobati hati dari cinta dunia. Tenggelam kepada kecintaan dunia dapat memalingkan jiwa dari kecintaan kepada Allah dan ketakutan kepada akhirat. Suatu lingkaran yang tak berujung ; usaha mendapatkan harta, mendapatkan kekuasaan, mendapatkan kelezatan, lebih berusaha mendapatkan harta, dst. Syariat Islam memutuskan lingkaran tersebut dengan mewajibkan zakat, sehingga terhalanglah nafsu dari lingkaran syetan itu. Karena Allah mengaruniai harta dengan disertai ujian atau fitnah (21:35; 64:15; 89:15), sehingga zakat melatih kita untuk terhindar dari fitnah harta atau dunia.