Tiga Rahasia Menaklukan Godaan Dunia

Tiga Rahasia Menaklukan Godaan Dunia
Ilustrasi foto/Net

SYAIKH imam nawawi al-bantani menceritakan sebuah kisah yang menarik antara Hatim Al-asham dan setan yang senantiasa menggodanya. Hatim Al-asham berkata: “Setiap pagi setan selalu bertanya padaku tentang tiga hal: “Apa yang kamu makan? Apa yang kamu pakai? dan di mana tempat tinggal kamu? lalu aku menjawab: aku sedang memakan (membayangkan pahitnya) mati (sakratul maut); yang aku pakai adalah kain kafan; tempat tinggalku ialah kuburan.”

Kemudian, setelah mendengarkan jawabanku setan langsung pergi menjauh dariku. Sulit rasanya kita dapat merasakan ketika orang makan sambil membayangkan maut yang akan ia hadapi. Akan tetapi, sosok insan ini dapat merasakan setiap makanan yang ia makan dengan penuh keikhlasan dan kelezatan iman yang tertanam dalam dirinya.

Jawaban kedua, yakni pakaian kafan yang ia bayangkan saat memakai baju. Sosok seperti beliau tidak akan dapat merasakan memiliki pakaian yang terbagus dan terindah, meskipun ada orang yang memberikannya. Dengan demikian, dalam hatinya tidak mungkin untuk berlaku sombong dan angkuh dalam hidupnya. Seandainya para orang kaya dan pengambil kebijakan di negeri ini dapat memiliki sifat kedua ini, insyaallah tidak akan ada lagi orang miskin. Mereka akan senang untuk berzakat, berinfak, dan menyedekahkan harta yang dimilikinya.

Jawaban ketiga, sungguh luar biasa apabila dapat diambil hikmahnya bagi umat saat ini. Kuburan merefleksikan tempat yang sangat tidak nyaman, sepi dan gelap. Sehingga orang enggan atau tidak mau berada di dalamnya. Sedikit hikmah yang dapat saya ambil yakni sangat sulit rasanya seseorang untuk menahan hasrat untuk memiliki barang-barang yang terbaik dan termewah (zuhud dalam hidup). Bukankah sebaik-baiknya perhiasan adalah keimanan yang ikhlas kepada Allah. Mungkin, jika setiap orang kaya yang memahami konsep ini, insya Allah mereka akan menjadi orang yang tidak hanya kaya di dunia namun juga di akhirat. Mereka yang senang dan bahagia hakikatnya ialah mereka yang telah memaksimalkan kuantitas dan kualitas ibadah mereka.

Tiada waktu yang tersisa sedikit pun, kecuali untuk terus memperbaiki diri dan menyebarkan dakwah Islam kepada umat manusia. Merekalah yang akan menjadi orang yang terbahagia di dunia dan akhirat. Merekalah sosok-sosok manusia yang telah mewakafkan atau menjual dirinya untuk Allah semata. Sehingga Rabb-Nya yang Maha Kaya melipatgandakan pembeliannya (ganjarannya) dengan sebaik-baiknya pahala.