Tanggung Jawab Orang Tua

Tanggung Jawab Orang Tua

SETIAP kita memiliki tanggung jawab sesuai dengan tugas dan tempatnya masing-masing, sama halnya dengan orang tua. Sebuah keluarga akan menjadi baik, apabila setiap anggotanya mengetahui hak dan kewajibannya dengan baik.

Allah swt berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah maalikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-tahrim: 6).

  Satu hal penting yang kadang-kadang kedua orang tua terkadang mengabaikannya atau tidak memahami manfaatnya, yaitu untuk mengawinkan putera-puteri pada umur yang lebih muda. 

Dalam hadits dari Nabi saw bersabda :“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barang siapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih)

            Perkawinan akan menjaga dan memelihara kedua suami isteri dari segala keburukan dan akan mendatangkan rahmat Allah swt. Perkawinan akan menjaga individu dan masyarakat dari jalan-jalan kerusakan dan kejahatan moral.

Oleh karena itu, setiap orang tua harus memperhatikan sungguh-sungguh untuk segera mempermudah rencana perkawinan putra-putrinya.

          Semoga Allah swt memberikan taufik dan pertolongan kepada kita sebagai orang tua,  untuk dapat menikahkan anak kita kelak pada umur yang lebih muda. Bersungguh-sungguh mencarikan istri yang shalihah untuk putranya, begitu juga mencarikan suami yang shalih untuk putrinya. Karena anak merupakan amanah yang besar, maka penuhilah hak dalam mendidik mereka.

            Para ulama hendaknya menganjurkan umat Islam untuk mendukung hal tersebut. Dalam hal ini kita mempunyai suri  teladan yang baik, yaitu pribadi Rasulullah saw. Umar bin Khattab berkata : “Janganlah kalian memahalkan mahar kaum wanita, karena andaikata merupakan pemberian di dunia dan ketakwaan di akhirat maka hal itu lebih diutamakan oleh Rasulullah saw.

Nabi saw tidak pernah memberi mahar pada siapapun diantara para istri beliau, dan tidak juga seorangpun diantara puteri-puteri beliau yang menerima mahar lebih dari dua belas uqiyah, dan satu uqiyah sama dengan empat puluh dirham.”