Sukses Bukanlah Sekadar Hasil

Sukses Bukanlah Sekadar Hasil
Ilustrasi foto/Net

SALAH satu pelajaran penting dalam hidup adalah memahami bagaimana terjadinya besi dan terlahirnya seekor kupu-kupu karena adanya sebuah proses. Sebuah besi dapat berubah menjadi pedang yang sangat bernilai. Pedang yang kuat dan bagus didapatkan dari hasil tempaan seorang pandai besi yang ulet dan gigih. Sedangkan seekor kupu-kupu yang indah dihasilkan dan bermula dari satu kepompong yang dianggap tidak berarti sedikit pun.

Inti dari sebuah pedang merupakan hasil dari karya seorang pandai besi yang memiliki tekad dan jiwa yang kuat. Dengan kegigihannya dia bersabar dalam menyelesaikan pedang terbaiknya. Sedangkan seekor kupu-kupu terlahir dari sebuah proses yang menuntut kesabaran dan keteguhan hati. Yang bermula dari sesuatu yang tak bernilai berubah menjadi bentuk yang sangat indah. Sukses itu adalah bagian dari sebuah proses. Proses yang baik dan terbaik satu bagian dari pembelajaran yang kelak akan menentukan hasil akhirnya. Belajar untuk meraih sukses adalah tugas mulia kita semua sampai hari akhir. Sebagaimana diungkapkan oleh Al Ghazali :  “Waktu belajar adalah seumur hidup. Dimulai sejak lahir hingga meninggal dunia.”

Lalu apakah arti sukses ? Sebelum kita mulai pembicaraan tentang sukses, mari kita samakan pemahaman kita tentang sukses. Menurut Kevin Cunningham, kesuksesan adalah sebuah prestasi mengagumkan atas suatu tindakan nyata yang kita pilih secara sengaja untuk memberikan yang terbaik. Kesuksesan bukanlah semata-mata ditandai oleh melimpah ruahnya harta kekayaan. Harta kekayaan memang penting, tapi bukanlah satu-satunya yang paling penting. Bisa saja orang yang kaya raya menghamburkan hartanya, tanpa memikirkan lagi masa depan, sehingga pada akhirnya bangkrut.   Akan tetapi, bagi orang yang cerdas, mereka akan menggunakan hartanya sebagai sarana pendukung untuk meraih kesuksesannya.

Ada sebuah hikmah dari kisah seorang pria yang telah membunuh 100 orang, tetapi Allah swt memberikan surga-Nya. Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dahulu, di kalangan Bani Israil, ada seorang pria yang sangat kejam yang telah membunuh 100 orang. Suatu ketika dia menyadari kesalahannya terhadap Allah swt. Dia pun berpikir tentang hari pertemuannya dengan Allah nanti, teringat waktu untuk mempertanggungjawabkan semua dosanya.

Dalam proses pertaubatannya pria tersebut akhirnya meninggal dunia di perjalanannya. Hingga Allah swt meminta malaikat-Nya untuk mengukur jarak kebaikan dan keburukan. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa sesungguhnya pria pembunuh 100 orang ini mengarahkan  dadanya dekat ke arah kampung yang baik. Akhirnya, mereka menjumpai mayat lelaki jahat ini lebih dekat kepada penduduk kampung yang baik. Dan mereka memutuskan bahwa lelaki ini adalah bagian untuk malaikat rahmat. Malaikat rahmat pun mengambilnya untuk dimasukkan ke dalam surga.