Satu Kunci Untuk Segala Kebaikan

Satu Kunci Untuk Segala Kebaikan
ilustrasi foto

RASULULLAH SAW bersabda : “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi ialah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu ialah bagian dari iman.” (HR. Bukhari)

Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya. Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan.”

Mempunyai sifat malu bukan berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau tidak pede. Terlebih karena ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita introspeksi diri, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Allah SWT atau karena manusia. Misalnya kita malu memakai jilbab syari, malu menunjukkan jati diri sebagai Muslim atau malu pergi ke majlis taklim.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad SAW) ialah orang yang pemalu. Beliau menyuruh umat-Nya agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan sesuai dengan firman Allah SWT, yang artinya: “Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 53)

Sifat malu memang adakalanya harus disingkirkan, yaitu saat kita menuntut ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: “Orang yang tidak tahu tidak selayaknya malu bertanya, dan orang yang ditanya tidak perlu malu bila tidak mengetahuinya untuk mengatakan: Saya tidak tahu.”

Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.” Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah ra. Ia berkata : “Sebaik-baik wanita ialah wanita Anshar. Rasa malu pada diri mereka tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama.” (Fathul Bari 1/229)

Ketika rasa malu sudah tidak lagi ada dalam diri, maka apa pun bisa dikerjakan, termasuk pada akhirnya menghalalkan segala macam cara dalam memenuhi nafsunya. Tidak ada lagi rasa sungkan, langsung dikerjakan saja, tanpa peduli benar atau tidaknya. Tiada rasa malu kepada orang lain (apalagi kepada Yang Maha Melihat). Terlebih malah ’mengajak’orang lain kepada jalan kemaksiatan untuk menjadi pendukung dan bala bantuannya.