Pujian Yang Menjadi Panah Setan

Pujian Yang Menjadi Panah Setan

                IMAM Ats-Tsauri menuturkan: “Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri,  hindarilah sifat senang disanjung orang.” Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Swt. Dalam sebuah hadits disebutkan: Sekiranya kesadaran itu belum juga tumbuh, maka simaklah penuturan Al-Fudhail bin Iyadh yang telah meletakkan kaidah untuk mengetahui kadar diri, beliau berkata: “Di antara tanda-tanda orang munafik adalah senang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, benci celaan atas kejelekan yang ada pada dirinya, dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangan-nya.”

            Segeralah introspeksi dirimu wahai saudaraku! Sekiranya seseorang datang secara pribadi berkata: "Saya melihat kekuranganmu ini dan ini", apakah wajah-mu lantas memerah lalu engkau memakinya, engkau tetap tidak bergeming dari kekurangan itu! Bahkan mengomel sambil berkomat-kamit mengucapkan laa haula wala quwwata illa billah!. Ataukah engkau berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kekuranganku”. Engkau akan dapati orang tersebut menjadi korban sanjungan menghanyutkan itu. Seandainya seseorang menyanjungnya, hatinya langsung berbunga-bunga, gembira dan tenggelam dalam khayalan  indah. Mengapa? Sebab dirinya akan terbuai dengan sanjungan itu. Namun jika datang orang lain yang mena-sihatinya, sikapnya langsung berubah aneh, dadanya menjadi sempit, langsung ditimpalinya dengan omelan panjang, dan keluar kata-kata keji lagi kasar dari lisannya.

               Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa Allah Swt banyak menutupi kesalahan kita, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar. Setiap orang tentu lebih tahu tentang rahasia dirinya sendiri daripada orang lain. Pujian orang lain kepada kita hanyalah jaring-jaring godaan yang dilemparkan setan untuk menjerat diri kita. Seorang ulama salaf bernama Khalid bin Shafwan rahimahullah banyak menyelidiki psikologis bani Adam, ia berkata: “Berapa banyak orang yang terpedaya dengan sitrullah (tirai Allah Swt yang menutupi kesalahan manusia) dan tergoda dengan sanjungan orang. Maka jangan sampai kejahilan orang yang menyanjungmu menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu. Semoga Allah Swt tidak menjadikan kita termasuk golongan mereka.

               Jenis pujian lainnya adalah memuji diri sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Ini termasuk rekomen-dasi terhadap diri sendiri. Sebagian orang sengaja memuji diri sendiri di hadapan orang banyak. Allah Swt berfirman:  “Janganlah kamu menganggap diri kamu suci” (An-Najm: 32). Dan perbuatan tadi termasuk menganggap suci diri sendiri. Rabbah Al-Qaisi pernah ditanya: “Apakah yang dapat merusak amalan seseorang?”. Beliau menjawab: “Sanjungan orang dan lupa terhadap Allah Swt yang telah memberi nikmat”.