Puasa sebagai Momentum Transformasi Tauhidi

Puasa sebagai Momentum Transformasi Tauhidi
Ilustrasi foto/Net

SELAMA melaksanakan ibadah puasa, adalah penting untuk menyingkirkan sikap-sikap pragmatis dalam memahami teks maupun realitas-faktual. Pragmatisme telah membuat heurmenetic as a tool of analysis hanya berkutat pada penafsiran teks. Pemahaman terhadap agama kemudian terjebak pada bagaimana menerapkan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam teks lama tanpa mengubah struktur lamanya, kebekuan yang lahir sebagai akibat munculnya hasrat-hasrat (desire) pragmatis untuk melanggengkan kekuasaan. Tak kunjung jua menyelesaikan dan menyentuh substansi permasalahan. Yang ada justru konflik internal yang tak berkesudahan.

Pemusnahan hasrat ini tentu saja harus melewati beberapa tahapan dan upaya menuju puncak spiritualitas (at-Tauhid) yang merupakan esensi dari seluruh ajaran agama. Dalam tulisan ini, hemat penulis ibadah puasa, maupun ritual ibadah lainnya, sebetulnya menderivasikan pentingnya pandangan hidup (world view) yang tidak hanya mengesakan Tuhan seperti diyakini para monoteis, melainkan juga meyakini kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of quidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of purpose of life), yang secara keseluruhan merupakan derivasi dari kesatuan ke-Tuhanan (unity of Godhead).

Setelah beberapa tahapan itu sama-sama kita lewati dan pahami, tahapan berikutnya tentu saja kita harus berkomitmen penuh bahwa kita menyatakan perang terhadap segala bentuk kemungkaran sosial (dzulm), untuk sebenar-benarnya berupaya merealisasikan kebebasan dan kemerdekaan yang seutuhnya bebas dan merdeka dari segala bentuk refresivitas dan bukan kebebasan yang palsu (tolerance refressive).

Transformasi tauhidi yang menuntut kita untuk berkomitmen penuh pada upaya merealisasikan kebebasan dan kemerdekaan yang selalu merasa tidak puas dengan realitas faktual yang ada.  Maka ini berarti bahwa, misi utama gerakan keagamaan saat ini adalah ‘membebaskan dan memerdekakan manusia’ dari sikap nerimo pada realitas. Kebebasan dan kemerdekaan sejatinya dipahami sebagai sesuatu yang seharusnya ada, yang lahir dari hasil dialektika dan ketegangan antara fakta dan keharusan.

Terakhir marilah kita jadikan momentum puasa sebagai spirit baru bagi kita yang telah mulai tercerai-berai ini menuju komitmen transformasi tauhidi, hijrah (new social movement), transformasi yang menuntut pengorbanan, cinta dan aksi menuju negara Indonesia yang sama-sama kita cita-citakan. [ ]