Puasa Menuntun Kepada Kesadaran Sejati

Puasa Menuntun Kepada Kesadaran Sejati
Ilustrasi foto/Net

 

DI MUSIM PENGHUJAN, saat tanah begitu gembur dan persedian air begitu mencukupi, bumi yang kita pijaki ini tak henti-hentinya melakukan proses mikroorganisme, demi menunjang kelangsungan hidup makhluk lainnya, terutama manusia. Tapi di musim panas, tanah memiliki kesempatan untuk beristirahat dan puasa sejenak.

Seperti itu pulah lah sejatinya ibadah puasa yang kita jalani. Allah pemilik alam semesta ternyata hendak mengingatkan ciptaannya, terutama manusia bahwa ada saat-saat kita beristirahat dari hasrat, hawa nafsu yang tak pernah ada ujungnya.

Seumpama air berharap puasa dari limbah industri yang dibuat oleh tangan-tangan manusia. Udara menghendaki sejenak terbebas dari asap rokok dan pembakaran bahan fosil lainnya. Yang juga penting, puasa mengingatkan kita bahwa Allah pada dasarnya tengah memberikan rekomendasi kepada manusia dan seluruh makhluknya untuk segera meninggalkan konsumerisme, beralih kepada entrophi kesederhanaan hidup, serta keseimbangan dengan alam.

Karena bila tidak, maka seperti firman Allah Swt. dalam surah al-Mukminun ayat 71, yaitu “Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi beserta isinya.”

Idul Fitri, yang dalam beberapa hari ke depan dirayakan segenap kaum muslimin di penjuru dunia merupakan titik puncak perjalanan spiritual ibadah puasa. Yang menandai kembalinya orang-orang yang berpuasa kepada fitrahnya sebagai makhluk Tuhan yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi dibanding makhluk-makhluk lainnya.

Kesadaran yang membuat manusia berhasil masuk nominasi sebagai khalifah di muka bumi. Dan pada akhirnya, kesadaran ini pulalah yang membuat manusia tetap saja dipilih Sang Maha Pencipta untuk dijadikan khalifah, meski protes keras sempat dilontarkan oleh makhluk-makhluk lainnya, terutama malaikat yang mengatakan bahwa kesadaran dan hawa nafsu manusia amat tipis tingkatannya. Artinya manusia bisa “sadar”, tapi bisa juga kebablasan dan bahkan menjadi hina.

Alasan Tuhan memilih manusia sebagai khaifah di muka bumi sekali lagi tentu saja bukan karena semata manusia memiliki kelebihan hawa nafsu yang berpotensi mengeksploitasi alam, menghambur-hamburkan uang di pusat-pusat perbelanjaan, atau memamerkan harta tatkala pulang kampung. Tapi alasannya adalah karena manusia mampu memiliki kesadaran tertinggi untuk menjaga keseimbangan hidup, baik secara ekologis, sosiologis maupun politis.

Dengan kesadarannya, dengan demikian manusia mestinya mampu mencegah kerusakan alam. Mencegah perampokan uang negara dalam kasus-kasus korupsi. Mampu mencegah pemasungan kreativitas karena aturan kaku dan keliru penguasa. Mampu mencegah liberalisasi pertanian dan melindungi petani dari serbuan produk luar negeri. Mampu menjaga diri dari penyebaran hoax yang membabibuta.

Atas alasan itulah kemudian, kita dianjurkan supaya di hari-hari berikutnya pasca idul fitri untuk terus menjaga spirit puasa; jujur pada diri sendiri, jujur pada Tuhan, sabar akan cobaan dan godaan, seimbang dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kembali fitri, dan kembali pada kesadaran sejati untuk tidak menebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya (hoax).

[Mrf]