Problematika Pergaulan Remaja

Problematika Pergaulan Remaja

              KETIKA seseorang beranjak remaja, maka dia dibesarkan untuk menjalankan kewajiban agama, sebagaimana yang diwajibkan kepada orang dewasa. Dia sudah bertanggung jawab kepada Allah SWT atas segala yang dilakukan. Sebenarnya manusia secara fitrah diberi potensi kehidupan yang sama, dimana potensi itu yang kemudian selalu mendorong manusia melakukan kegiatan dan menuntut pemuasan. Potensi ini sendiri bisa kita kenal dalam dua bentuk.

             Pertama, yang menuntut adanya pemenuhan yang sifatnya pasti, jika tidak terpenuhi manusia akan binasa. Inilah yang disebut kebutuhan jasmani (haajatul udwiyah), seperti kebutuhan makan, minum, tidur, dan bernafas. Kedua, yang menuntut adanya pemenuhan saja, jika tidak terpenuhi manusia akan gelisah sampai terpenuhinya tuntutan tersebut, yang disebut naluri atau keinginan (gharizah). Kenyataannya, pacaran merupakan wadah antara dua insan yang kasmaran yang tergoda oleh bujukan setan. Islam sudah jelas menyatakan: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)

              Seringkali sewaktu lagi pacaran banyak aktivitas lain yang hukumnya wajib maupun sunnah jadi terlupakan. Sampai – sampai waktu sholat sempat teringat si doi. Intinya aktivitas pacaran itu dekat sekali dengan zina. Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu maka menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.”(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi). Jangan suka mojok atau berduaan ditempat yang sepi, karena yang ketiga adalah setan. Seperti sabda nabi: “Janganlah seorang laki-laki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab setan menemaninya, janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (HR. Imam Bukhari Muslim).

          Dan untuk para muslimah jangan lupa untuk menutup auratnya agar tidak merangsang para lelaki. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya.” (QS. An Nuur : 31).