Pernak-Pernik Keluarga

Pernak-Pernik Keluarga

  KEHIDUPAN suami isteri itu diibaratkan sebuah kapal yang sedang berlayar, ada nahkoda dan awak kapal. Semua yang ada di dalam kapal itu bahu-membahu berusaha menyelamatkan kapal yang mereka tumpangi pada saat saat kapal ditimpa badai agar semuanya selamat dan sampai ke tujuan atau “pulau idaman.” Teruntuk suami, Allah menjadikannya sebagai pemimpin bahtera rumah tangga, pelindung, dan pengayom bagi keluarga, bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Kepemimpinan yang diembannya itu adalah tugas sekaligus kewajiban.

Maka suami yang baik hakikatnya seseorang yang memahami kebutuhan dan perasaan istrinya, dan menjadikan tampuk kepemimpinannya penuh dengan kasih sayang, kesejukan dan kedewasaan, tidak mudah emosi, namun tetap tegas pada saat harus bersikap mengambil keputusan.

              Akan tetapi, sebagian suami yang meremehkan tugas ini memahami, bahwa meminta maaf kepada istri akan menghinakan dirinya sebagai laki-laki, bahkan ia berpendirian bahwa kemuliaannya tidak membolehkan dirinya untuk mengucapkan kalimat “Istriku, maafkan aku, aku salah”, kepada isterinya, bagaimanapun keadaannya. Maka, keegoannya terus ia pertahankan dan istri selalu diposisikan ‘bersalah’, ia tidak pernah meminta maaf kepadanya, yang kemudian menyeretnya kepada kehancuran rumah tangga dan kalimat ‘cerai’ pun tak terhindarkan, padahal sangat mungkin rumah tangga itu bisa dilanggengkan dengan ucapan “maafkan suamimu, sayang.”

           Seorang istri pernah menceritakan tentang pengalamannya: “Dahulu, kehidupanku bersama suamiku demikian bahagia. Akan tetapi itu semua berubah ketika terjadi beberapa percekcokan tentang urusan rumah.

Waktu itu aku tinggal bersama di rumah mertuaku, maka aku memutuskan untuk pindah dan keluar dari rumah mertuaku, walaupun sendirian. Suamiku menolak rencanaku dan menjelaskan, bahwa ia suatu hari nanti akan bisa memiliki rumah sendiri. Dan terkadang suamiku memberi alasan tidak bisa meninggalkan ibunya, dan lain-lain, sampai suatu hari, terjadilah perselisihan antara aku dengan suamiku.

Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah mertuaku dan kembali ke rumah orang tuaku, dan aku katakan, jangan menjenguk atau menjemputku sebelum engkau memiliki rumah sendiri. Maka, aku dan suamiku pun sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Dan sungguh aku pun akhirnya menyesali perbuatanku. Akan tetapi aku ingin mengetahui sejauh mana kedudukanku di sisi suamiku. 

Demikianlah sepenggal kisah sebuah keluarga, dan kedewasaanlah yang akan diuji. Jadi, mungkin ada suami yang sampai tidak mau mengasihi dan menyayangi isterinya, walaupun hanya dengan satu kata ‘maaf” yang sangat dicintai isterinya apalagi sampai mau memaafkan isterinya tersebut, begitu pula sebaliknya.