Menjaga Kebersihan Hati

Menjaga Kebersihan Hati
ilustrasi foto

SEORANG  muslim  sejatinya harus berusaha keras untuk meraih dan menjaga bersihnya hati, agar kelak ia mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah Swt. Dia akan menjadi pemenang dan menjadi makhluk ciptaan Allah yang beruntung dalam menjalani kehidupan di dunia dan selamat kelak dalam menjalani kehidupan di akhirat. Manusia dengan hati yang bersih akan selalu berada dalam naungan Allah, sehingga tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Rasulullah SAW bersabda:  “Agama adalah nasihat (sebanyak 3 kali).  Para sahabat bertanya, “Nasehat untuk siapa?” Nabi berkata “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, dan  para pemimpin kaum muslimin ” (HR. Muslim)

Salah satu bentuk nasehat kepada Allah ialah selalu berupaya beribadah dan memuji nama-Nya dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Manusia seperti ini akan selalu mempelajari, mengamalkan dan menjalankan apa yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran. Wujud nasehat kepada Rasul-Nya yaitu mengikuti apa yang disunahkannya (perkataan dan perbuatan) dan berdakwah sesuai manhaj ahlus sunnah wal jamaah. Nasehat kepada para pemimpin (penguasa) dengan cara tidak melawan perintahnya selama pemimpin tersebut tunduk kepada aturan Allah. Nasehat bagi kaum muslimin adalah dengan menunaikan hak-hak mereka, menjaganya, memberi pelajaran, menyumbangkan kebaikan dan menahan diri dari segala keburukan.

Barangsiapa yang selalu menjaga hatinya agar tetap bersih maka akan dijauhkan Allah dari sifat kikir dan angkuh sebagaimana Rasulullah mengajarkan kepada umatnya melalui salah satu haditsnya. “Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga ia menyukai bagi saudaranya apa yang ia sukai untuk dirinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mengenai makna hadis ini, Ibnu Rojab mengatakan “Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin akan selalu berusaha membuat saudara seimannya bahagia dan ia ingin untuk saudaranya tersebut kebaikan yang ia inginkan untuk dirinya. Ini semua timbul dari hati yang bersih dari segala sifat negatif (dengki dan hasad).

Sebab setiap hasad melazimkan orang yang hasad untuk mengunggulinya atau menyamainya dalam perkara kebaikan, karena ia maunya menjadi spesial di hadapan manusia dengan keutamaan yang dimilikinya dan ia ingin menjadi sendirian yang istimewa di antara mereka. Dan keimanan melazimkan lawan dari yang demikian ini, yaitu dia ingin kaum mukminin seluruhnya ikut merasakan kebaikan yang Allah anugrahkan kepadanya tanpa mengurangi kebaikan tersebut darinya.”