Mendidik Anak Saat Sakit

Mendidik Anak Saat Sakit
Ilustrasi

PERNAHKAH anak anda terjatuh, lalu menangis kesakitan? Mungkin sebagian kita panik,  tapi peristiwa ini sebenarnya bisa dijadikan sarana untuk mendidik anak. Bersihkan luka-lukanya, atau kalau parah bisa dibawa ke dokter. Tak cukup dengan mengingatkan anak untuk lebih berhati-hati, tapi coba katakan dengen lembut, “Tenang ya nak, Alloh akan sembuhkan, Insyaa Alloh!”

Sambil membersihkan luka-lukanya, kita pun bisa mulai berkisah. “Tahu gak nak, dulu Abu Bakar Sidik, terkena gigitan ular, saat kakinya menutupi lubang saat berada di Gua Tsur karena bersembunyi dari pengejaran kafir Quraish. Saking cintanya sama Rasululloh shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar tidak mau baginda Rasululloh yang lebih dulu digigit binatang itu. Rasululloh pun berdoa kepada Alloh, hingga luka Abu Bakar pun tiba-tiba sembuh

Atau bisa juga berkisah tentang sahabat Abu Said Al Khudri. Suatu saat ia diminta bantuan oleh sebuah suku karena pimpinannya terkena gigitan kalajengking. Abu Said pun mengobati luka sang Kepala Suku hanya dengan membacakan Al Fatihah. Dengan ijin Alloh, ia pun sembuh.

Kita pun bisa berkata kepada anak kita, “Semua penyakit itu Alloh yang sembuhkan, karena itu kalau kita sakit berdoalah sama Alloh supaya disembuhkan,”

Kejadian semacam ini akan banyak kita temukan saat berinteraksi kepada anak-anak. Kepala terbentur benda, kaki, tangan, dengkul berdarah karena terjatuh, pusing  atau sakit perut dan sebagainya.  Jangan sia-siakan kesempatan itu, sebagai pembelajaran tauhid bagi anak-anak kita.

Saat kondisi sakit adalah momentum untuk orangtua memberikan nasihat  dan memberikan sentuhan iman kepada anak. Karena saat itu, hati manusia menjadi lembut.

Itu pula yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam saat menjenguk seorang anak Yahudi yang sedang sakit.  Beliau datang kerumahnya dan duduk disamping kepalanya. Rasulullah berkata kepadanya, “islamlah!” maka dia memandang ke arah ayahnya yang berada di dekatnya. Ayahnya berkata “ikutilah Abul Qasim ( yakni Rasulullah) !”. Anak itu pun menyatakan keislamannya, maka Rasulullah bersabda, “Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkannya dari api neraka.” (HR. Bukhari)

Dalam bukunya Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli , Muhammad Ibnu Suwaid mengatakan bahwa Rasululloh mencari moment yang tepat untuk mengajak anak yahudi itu masuk Islam. Selama ini beliau tidak melakukannya padahal anak itu selalu melayani beliau. Baru ketika ada waktu yang tepat, yakni saat dia sakit beliau mengajaknya untuk masuk Islam.

Mengajak kepada kebaikan itu butuh cara yang tepat, apalagi kepada anak-anak kita. Karena yang terpenting dalam nasehat itu, nilai-nilai itu tertanam dalam diri sang anak. Semua nasehat itu  harus keluar dari keimanan dan ketulusan, supaya mendapat pertolongan Alloh Azza wa Jalla.

Selamat untuk mencobanya