Manusia didalam Al-Quran

Manusia didalam Al-Quran

BERBAGAI hal terkait manusia di bahas di dalam Al-Quran, salah satu yang diuraikannya adalah tentang persoalan reproduksi manusia serta tahap-tahap yang dilaluinya, sehingga tercipta sebagai ciptaan Tuhan yang mempunyai keistimewaan dan keunggulan dibanding dengan makhluk lainnya.

Dalam Al-Quran setidaknya ada tiga ayat yang berbicara tentang sperma atau mani, yaitu surah Al-Qiyamah ayat 36-39, surah An-Najm ayat 45-46, dan surah Al-Waqiah ayat 58-59. Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa manusia setelah diciptakan oleh Allah itu tidaklah dibiarkan begitu saja, tetapi ia dibebani tugas dan kewajiban yang berupa perintah dan larangan dari-Nya yang harus ditaati dan dilaksanakan.

Demikian juga setelah meninggal, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya selama hidup di dunia. Kemudian Allah mengingatkan kembali kepada manusia tentang asal-usul kejadiannya.

Allah mengingatkan manusia yang masih ingkar terhadap bagaimana air mani itu diciptakan-Nya menjadi daging, yang dengan daging itu kemudian diciptakan manusia sempurna melalui proses kehamilan.

Demikian pula mudah bagi-Nya untuk menghidupkan manusia, lalu mematikannya, dan kemudian menghidupkannya lagi, sebagaimana firman Allah swt. “Apakah manusia mengira dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)? Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.”(QS. Al-Qiyamah : 36-39) Informasi Al-Quran itu kemudian dilanjutkan dengan proses selanjutnya, yaitu bahwa nuthfah tersebut dalam proses selanjutnya menjadi ‘alaqah (QS. Al-Hajj : 5, dan Al-Mukminun : 14). Al-Quran juga menyebutkan bahwa asal dan kejadian manusia itu sama, tidak berbeda (QS. An-Nisa: 1, Al-Hujurat: 13).

Selanjutnya dalam perkembangan janin yang ada dalam kandungan, Al-Quran juga menyatakannya, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu lalu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.

Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mukminun : 12-14), dan juga masa kehamilan yang tidak terlepas dari pengetahuan wanita yang hamil, “…Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dnegan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauhful Mahfuz). Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Fathir : 11)