Kualitas Muslim Hakiki

Kualitas Muslim Hakiki

              KEHIDUPAN seseorang hakikatnya ditentukan oleh kualitas ikhtiar, usaha atau amalnya. Yang dimulai dengan nilai-nilai motivasi yang terkandung dalam kehendak atau niatnya. Kemampuan mengorganisir masalah, informasi dan data banyak mempengaruhi cara atau solusi dan penyelesaian suatu masalah, yang didukung prosedur dan pengaturan waktu (‘time frame’) yang memadai.

               Untuk menjaga konsistensi kualitas hidup diperlukan adanya program hidup jangka panjang yang dilengkapi dengan implementasi konsep solusi yang terkendali. Di sini Islam memiliki konsep yang tidak tertandingi oleh paham kehidupan lain apapun yang berorientasi pada kefanaan dan kenisbian sekularisme. Kehidupan sementara di dunia ini pada hakikatnya merupakan rangkaian amal yang satu dengan amal lainnya, solusi satu masalah yang diikuti munculnya masalah lainnya. Manusia yang bertakwa memandangnya tidak hanya sebagai rutinitas hidup, tapi lebih sebagai tabungan atau bekal untuk kehidupan yang lebih panjang dan kekal di akhirat nanti.

             Seorang mukmin sejatinya tidak akan patah semangat bila yang diharapkan atau ditargetkan tidak tercapai, dan tidak akan menepuk dada atau sombong bila memperoleh sukses atas usahanya. Yang terpenting adalah selalu diadakan evaluasi atas proses ikhtiar dan perbaikan secara terus menerus (continous improvement). Bandingkan dengan ISO 9000 dengan slogannya: “ISO 9000 is all about quality processes, provides both general guidelines and contractual agreements used to meet quality requirements. ISO 9000 is a standard for quality management systems”, yang artinya ISO 9000 semata-mata berhubungan dengan kualitas proses, menyediakan petunjuk umum dan ikatan persetujuan yang digunakan untuk memenuhi persyaratan kualitas. ISO 9000 merupakan salah satu standar atau acuan untuk mengetahui kualitas sistem manajemen.

          Allah swt berfirman dalam Surah Al Insyirah ayat 7 – 8,”Fa-idzaa faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab”, yang artinya “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, maka kerja keraslah kamu (untuk urusan yang lain). Dan kepada Tuhanmu (hendaklah) kamu berharap”. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah di antara mereka itu yang lebih baik amalnya.”(QS. Al Kahfi ayat 7).

            Hakikatnya setiap kita akan diberi kadar permasalahan yang sama dan setara, diberi pelajaran, kemampuan dan fasilitas hidup yang membuat kita mampu dalam menyelesaikan persoalannya. Dengan syarat kita iringi dengan ketaatan dan selalu memohon taufik dan hidayah-Nya.