Kiat Mendidik Anak

Kiat Mendidik Anak
ilustrasi foto

ANAK merupakan sebuah warisan berharga dalam kehidupan berumah tangga. Sebagai sebuah bentuk titipan Allah, anak dapat mengantarkan ayah dan ibunya masuk surga. Jika anak tersebut berbakti dan taat kepada perintah Allah. Kita dapat belajar dari Rasulullah yang memiliki Fatimah, sosok manusia mulia yang selalu berpegang teguh kepada tali agama Allah. Sehingga terbentuk perpaduan nyata dan harmoni dari manusia yang mencintai Allah antara Rasulullah, istri dan anak-anaknya.

Tapi sejarah Islam tidak bicara anak yang patuh kepada orang tua dan perintah Allah semata. Kita pernah misalnya mendengar kisah Kan’an, anak nabiyullah Nuh yang membangkang kepada perintah Allah. Ketika banjir besar menerpa dengan segala kesombongan yang bersemayam dalam hatinya, sang anak menolak bantuan sang ayah dan memilih sikap akan lari ke atas gunung untuk menyelamatkan diri dari azab Allah tersebuh. Takdir berkata lain, pembangkangan kepada orang tua dan agama Allah membuatnya mati mengenaskan ditelan banjir besar tersebut.

Sekarang menjadi pertanyaan penting apakah kita mau mendidik anak menjadi pribadi yang pertama atau kedua. Tentu saja pilihan ada pada tangan setiap orang dalam mendidik dan memberikan perhatian penting kepada anaknya. Apalagi era globalisasi sudah berkembang sedemikian pesat sehingga membentuk pola pikir non Islami kepada anak, bentuk pengaruh negatif dari media sosial. Kita perlu menyadari sangat penting memberikan pendidikan keagamaan kepada anak sebagai benteng moralitas dan garda terdepan menjaga kualitas terbaik anak di masa depan. Anak sebagai harapan orang tua perlu diperhatikan kehidupan spritualitasnya sehingga tidak menjauh dari nilai Islam. Pentingnya memberikan pendidikan agama juga sesuai dengan dasar firman Allah yang menghendaki setiap orang tua menghindarkan anaknya dari siksa api neraka. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).

Memang disadari amanah berupa anak sangat berat di tengah kehidupan yang menggerus keimanan dan akhak anak. Maraknya media yang mempertontonkan aurat dan candaan yang tak bermanfaat misalnya menjadi tantangan tersendiri dalam pendidikan anak. Dapat dibayangkan pula bagaimana internet menghasilkan potensi negatif berupa situs yang tak layak diakses anak. Berapa banyak anak-anak rusak dan melakukan pelanggaran norma-norma agama dan masyarakat dengan sebab media-media tersebut. Sehingga mutlak diperlukan pengontrolan terhadap anak kepada media-media tersebut.