Kiat Menata Hati

Kiat Menata Hati
Menata Hati

   RASULULLAH SAW pernah mengatakan yang paling jauh kepada Allah Taala yaitu hati yang keras. Karena dosa dan kemaksiatan yang membuat hati menjadi keras. Dalam kesempatan lain, beliau juga pernah mengatakan bahwa ada empat perkara yang menjadi tanda kejahatan yaitu hati yang keras, mata yang beku, senantiasa berandai-andai dan panjang harapan, sehingga hidayah Allah dan kebaikan sulit masuk menembus hati nuraninya.

Hati yang lalai ialah hati yang tidak tahu diri dan tidak pernah menyadari ketika diingatkan dengan petunjuk atau perintah Allah dan larangannya sebagaimana yang dimuat dalam Al-Quran.. Dia sibuk bekerja dan mengejar kehidupan dunia serta sibuk dengan nafsunya sehingga lupa adanya negeri akhirat yang kekal.

           Manusia yang hatinya lalai cenderung sibuk menuruti hawa nafsunya dan mudah sekali melanggar perintah Allah. Ketika diajak shalat dengan terdengar suara adzan, telinganya seolah tuli dan hatinya tertutup nafsu sehingga mengabaikan perintah shalat.

Padahal shalat adalah nilai terpenting yang dijalani seorang muslim sehingga Allah menyebutnya sebagai tiang agama.  “… dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)

                 Imam Ibnul Qayyim memasukkan beberapa hal kedalam kelompok nafsu yang merusak hati, yaitu: terlalu banyak bergaul, terlalu banyak angan-angan, terlalu kenyang, dan terlalu banyak tidur. Makna terlalu banyak bergaul adalah pergaulana dengan manusia yang tidak baik ahlak atau keimanannya sehingga berakibat turunnya azab dari Allah, menghapus pahala dan menolak datangnya kenikmatan. Pergaulannya dilingkari manusia yang cinta terhadap dunia untuk melampiaskan keinginan individu terhadap lainnya, bila hakikatnya tersingkap maka ia akan berubah menjadi permusuhan.

                   “… dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan[1065] itu teman akrab(ku).

Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia” (QS. Al Furqan: 27-29)

               Terlalu banyak angan-angan berpotensi menjadi bencana bagi kehidupan seseorang jika apa yang dikhayalkannya kosong, dipenuhi kebatilan, kebohongan dan penuh tipu daya. Orang yang penuh angan-angan akan kehilangan iman, cahaya dan hikmah. Sementara orang yang memiliki ambisi dan cita-cita tinggi nan mulia akan meletakan harapannya kepada iman, ilmu dan amal yang datangnya dari Allah.

Oleh karena itu Rasulullah memuji orang tersebut sebagai manusia yang banyak berharap kepada amal kebaikan, sehingga Allah kelak membalasnya dengan kenikmatan surga.