Keteladanan Akhlak Rasulullah

Keteladanan Akhlak Rasulullah
ilustrasi foto

MODEL terbaik bagi kehidupan umat Islam di seluruh dunia hanya ada pada diri Rasulullah SAW. Dengan kehadirannya, Islam menjadi agama terbaik dalam mengajarkan keimanan, pengetahuan dan mampu meluruskan kesalahan akhlak manusia di muka bumi. Akhlak itu mencakup hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya secara sosial. Keteladanan Rasulullah ini banyak terlihat dari segala perkataan dan perilakunya yang dicatat dalam sejarah.

Salah satu akhlak utama Rasulullah dalam hubungan sosial ialah kemampuan mengomunikasikan dakwah kepada orang yang belum mengenal dakwah sehingga mereka mau memeluk Islam. Dalam dakwahnya, beliau memiliki ketulusan hati, kesabaran dan kelapangan dada yang mengagumkan sehingga membuat lawan bicaranya menaruh hormat kepadanya. Dalam memperjuangkan syiar kebenaran Islam terlihat sekali kegigihan dan militansinya sehingga menjadi teladan bagi muslim lainnya. Beliau tak juga pernah sekalipun berbohong, bersikap kasar dan jauh dari perangai buruk lainnya.

Semua orang mengakui betapa jiwa Muhammad begitu luhur dan agung, insyaflah penduduk Mekah karena kebaikan yang terpancar dari diri Muhammad SAW. Sungguh benar kiranya kalimat yang mengatakan agama yang paling dicintai oleh Allah adalah al-hanafiyah as-samhah (yang lurus lagi toleran).

Rasulullah memberikan pesan sekaligus isyarat penting bahwa tak ada hubungan keimanan seseorang dengan perasaan kebencian yang mendalam. Kemenangan pasukan Islam dalam menaklukan Mekah ialah milik Allah dan Rasulnya, sehingga tak pantas kemenangan dijadikan ajang balas dendam atas kesalahan orang lain di masa lalu. Segala kejahatan yang pernah dijalankan kaum Quraisy langsung mendapatkan ampunan dari Rasulullah. Sehingga sejarah menyatakan betapa banyak para penduduk Mekah yang tersentuh hatinya dan penuh kerelaan hati memeluk Islam.

Sehingga, kita pun menjadi heran saat menyaksikan banyak orang yang merasa iman meningkat tapi kebenciannya terhadap orang yang tak seiman dengan dirinya pun ikut meningkat. Ini kontradiktif dengan pesan Rasulullah bahwa mukmin yang paling sempurna adalah mereka yang paling indah akhlaknya. Suatu kali Rasulullah berdiri (memberi hormat) ketika sebuah iring-iringan jenazah yang lewat di hadapannya. Salah seorang sahabat beliau mengingatkan bahwa jenazah itu adalah jenazah orang Yahudi, yang tak layak mendapat penghormatan. Beliau langsung menjawab, “Bukankah ia juga manusia?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perilaku Rasulullah menyiratkan pesan mengenai keteguhan keimanan seseorang bukan dengan sikap angkuhnya terhadap orang yang berbeda. Justru sebaliknya, kuatnya keyakinan itu justru memantulkan sikap-sikap tawadhu, rasa hormat, tasamuh (toleran) dan terbuka terhadap orang lain sekalipun itu orang kafir.