Keindahan Lyrik Berbahasa Arab yang Menggetarkan Hati

Keindahan Lyrik Berbahasa Arab yang Menggetarkan Hati
Nisa Sabyan/Net

Seri kesatu 

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf [12]: 2)

SUATU siang di penghujung Ramadhan kemarin, gawai saya bordering memecah keheningan. Ketika saya buka, ternyata sebuah pesan wa dari teman lama. “Pak saya suka lagu ini, tentram hati saya mendengatnya”, katanya sambil menuliskan tautan video Sabyan Gambus bertitel ‘Deen Assalama’.

Beberapa hari kemudian, pesan wa yang hampir serupa kembali masuk ke gawai saya yang lainnya. Isinya sama, soal ketertarikannya pada video ‘Deen Assalam’ juga. Menurutnya, lagu yang dinyanyikan grup musik gambus dengan vokalisnya Khoirunnisa atau akrab disapa Nissa Sabyan, enak didengar dan membuat pikiran jadi adem.

Sebelum dibuat versi covernya oleh Sabyan Gambus, lagu ‘Deen Assalam’ ini sebetulnya sudah pernah saya dengar sebelumnya. Namun karena pesan wa itu, saya jadi lebih sering mendengarkan lagu tersebut. Secara pengirim wa itu adalah seorang non-muslim, namun tertarik lagu tersebut.

Yakin seribu persen, bila kedua orang yang berkomentar ini memang gak mengerti Bahasa Arab, karena keduanya memang beragama Nasrani. Karena itu, ketertarikan mereka pada lagu ‘Deen Assalam’ pun menggugah nalar. Saya bahkan jadi teringat kisah Sahabat Umar bin Khaththab dan Ibnu Mas’ud yang sama-sama memiliki ketertarikan pada al-Qur’an lantaran keindahan bahasanya.

Bisa jadi, Allah Swt. memang sedang memaparkan kemukjizatannya melalui al-Qur’an maupun teks lainnya yang berbahasa Arab, melalui lantunan ayat suci maupun syair lagu seperti ‘Deen Assalam’. Karena nyatanya, begitu banyak teman-teman dari kalangan agama lain yang ternyata menyatakan kesukaannya kepada lagu ‘Deen Assalam’ tersebut.

Lagu ‘Deen Assalam’ dengan lyrik berbahasa Arabnya, memang memiliki struktur bahasa yang indah dan memiliki makna yang mendalam. Pesan yang terkandung di dalam lagu ini begitu universal. Sehingga wajar bila banyak orang yang berasal dari agama lain terpana dan terkesima dibuatnya.

Adalah Knett Grigh, seorang Guru Besar Universitas Cambridge, pernah menjelaskan kenapa Bahasa Arab menjadi Bahasa Al-Qur’an. Menurutnya, karena “Al-Qur’an lebih unggul dan menjadi pedoman hidup manusia sepanjang masa, karena al-Qur’an mencakup hal-hal yang kecil maupun urusan yang besar. Tidak ada sesuatu yang tidak diatur oleh al-Qur’an. Saya yakin, al-Qur’an mampu mempengaruhi orang-orang Barat. Dengan syarat, al-Qur’an dibacakan dengan bahasa aslinya (Bahasa Arab), karena terjemahannya tidak mampu memberi pengaruh kejiwaan dan rohani, berbeda dengan bacaan aslinya yang menggetarkan jiwa dan meluluhkan hati.”

Sebagai orang muslim ketika kita mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan qori atau Imam saat shalat atau saat acara tertentu pasti membuat kita terhanyut dan merasakan kedamaian dan tanpa terasa air mata bercucuran bila qori tersebut melantunkannya dengan bagus dengan langgam mahroj yang pas. Apalagi bila lantunan ayat suci al-Qur’an tersebut kita simak dan renungkan di di Masjidil Haram atau Masjid Madinatul Munawaroh, tentu akan terasa lebih syahdu dan istimewa.

Bisa jadi kita akan merasakan apa yang dirasakan kaum muslimin atau alam saat mendengar bacaan merdunya Ibnu Mas’ud ketika melantunkan al-Qur’an. Bila kesan itu muncul, maka jangankan manusia biasa, bahkan Rasulullah sendiri pun akan memujinya. Dan Seperti dikatakan Rasulullah, bahwa bila Ibnu Mas’ud sudah melantunkan al-Qur’an, maka bukan saja alam yang tergoda untuk menyimak bacaan Ibnu Mas’ud, melainkan para malaikat pun berbondong-bondong ingin ikut menyimaknya.

Wahai para pecinta Allah dan Rasulnya, sungguh bila diantara kita ada yang bisa melantunkan ayat suci al-Qur’an seperti Ibnu Mas’ud saat ini, maka seperti ketika zaman Rasulullah, bahwa orang-orang kafir Quraisy pun sampai mengendap-endap hanya untuk mendengatkan lantunan ayat al-Qur’an yang dibacakannya.

Atau boleh jadi, jika ada lantunan ayat suci seindah dan semerdu Ibnu Mas’ud, niscaya aka nada Umar-Umar baru dari kalangan milenial yang terpukau dan tercerahkan. Semoga, apa yang terjadi pada lagu ‘Deen Assalam’ yang dicover Nisa Sabyan ini juga dapat menjadi pertanda bila Allah sedang mmenunjukkan mukjizatnya sehingga semakin banyak orang yang terinspirasi.