Kecerdasan Amr bin Ash

Kecerdasan Amr bin Ash

  DIKISAHKAN pada suatu hari Abdullah bin Amr bin Ash menghadap Rasululllah saw. “Wahai Rasulullah, berapa lama seharusnya saya menyelesaikan Al-Qur’an?” Tanya Abdullah bin Amr.  “Bacalah sampai khatam dalam sebulan,” jawab Rasulullah saw

“Saya bisa lebih cepat dari itu!”

“Khatamkan dalam 15 hari.”

“Saya dapat lebih cepat dari itu!”

“Khatamkanlah dalam 5 hari!”

“Saya masih kuat lebih cepat dari itu!”

“Khatamkanlah dalam 5 hari!”

“Saya bisa lebih cepat dari itu!”jawab Abdullah bin Amr.

Namun setelah itu, Rasulullah saw tidak lagi memberikan ‘dispensasi’.

Kesungguhan Abdullah bin Amr bin Ash tak hanya dalam hal membaca Al-Qur’an. Ia juga sering berpuasa. Berkenaan dengan puasa, ia pernah menyatakan kemampuannya kepada Nabi saw. Bahwa, ia sanggup berpuasa sebanyak mungkin. “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, seperti puasanya saudaraku Daud,” terang Rasulullah saw kepada Abdullah bin Amr.

Abdullah bin Amr juga sangat peduli pada ilmu hadits dan pengetahuan. Imam Mujahid pernah mendatangi Abdullah bin Amr, lalu meraih lembaran yang ada di bawah tempat tidurnya. Tiba-tiba Abdullah bin Amr mencegahnya. “Mengapa engkau menghalangiku?” Tanya Mujahid.

“Ini adalah berita-berita jujur, di dalamnya ada hadits yang saya dengar langsung dari Rasulullah saw, tidak ada perantara antara diriku dengan beliau. Apabila lembaran ini, Al-Qur’an dan wahath (ladang pertanian) diserahkan kepadaku, maka saya tidak peduli dengan apa yang terjadi di dunia!” ujar Abdullah bin Amr.

Abdullah bin Amr bin Ash termasuk sahabat Rasulullah saw yang kuat beribadah.  Selain dikenal sering membaca Al-Qur’an, ia juga sering membaca, ia juga rajin menulis. Abdullah bin Amr pernah meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menulis tentang beliau. Rasulullah pun mengizinkannya. “Wahai Rasulullah, saya menulis apa yang saya dengar dalam suasana ridha atau marah?” Tanya Abdullah bin Amr.

“Ya, sesungguhnya aku hanya mengatakan kebenaran,” jawab Rasulullah saw.

Berkenaan dengan hal ini, Abu Hurairah pernah berkomentar, “Tak seorang pun yang lebih hafal hadits Rasulullah saw melebihi diriku kecuali Abdullah bin Amr bin Ash. Ia menulis, sementara saya tidak menulis.”

          Inilah tradisi para shalafusshalih, yaitu tradisi membaca dan menulis. Tradisi berilmu, serta berlomba-lomba dalam kebaikan. Imam Syafi’I juga pernah bertutur:

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

 

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja