Julaibib, Sahabat yang Dirindukan Bidadari Surga [3]

Julaibib, Sahabat yang Dirindukan Bidadari Surga [3]
Ilustrasi foto/net

SORE ITU, saat pernikahan menjelang magrib tiba, Julaibib mendengar Nabi menyeru Jihad kepada seluruh sahabatnya.

Julaibib pun beranjak dan meminta ijin kepada istrinya untuk ambil bagian dari jihad itu. Padahal, waktu itu Julaibib akan melaksanakan bulan madu di malam pertama. Tapi, Julaibib meninggalkan impian itu untuk merengkuh kebahagian hakiki yaitu berjuhad membela Allah dan Rasulnya.

Julaibib berperang dengan gagah dan berani, tujuh pasukan lawan berhasil ia lumpuhkan. Namun, Allah menakdirkan Julaibib harus sahid di medan perang.

Ketika peperangan berkecamuk yang luar biasa, Julaibib terkena anak panah yang menembus dadanya sehingga Julailbib terjerembab dan akhirnya menghembuskan napas terakhir. Julaibib belum sempat menyapa istrinya yang cantik, dan harus pulang kepelukan yang maha kuasa Allah SWT.

Seusai peperangan dengan kemenangan di tangan kaum muslimin Nabi saw. bertanya siapa sahabat yang sahid. Para sahabat menyebut nama-nama yang cukup dikenal dan tidak ada satupun yang menyebut Julaibib. Nabi pun menyampaikan bahwa dia kehilangan Julaibib. Para sahabat terkejut dan akhirnya mencari jasad Julaibib hingga akhirnya diketemukan jasadnya yang di sekelilingnya 7 orang pasukan musuh terbunuh. 

Kemudian para sahabat menyampaikan kepada Nabi saw., Nabi saw. pun akhirnya mengkafani Julaibib dengan tangannya sendiri sambil berkata “Julaibib  ini adalah bagian dari aku, dan aku bagian dari Julaibib”. 

Nabi pun menengedahkan tangan berdoa dan kemudian beliau menghadap ke langit. Lalu, tiba-tiba beliau tersenyum dan segera memalingkan muka ke bawah. 

Melihat keanehan tersebut para sahabat bertanya kenapa Nabi saw. tersenyum, dan memalingkan muka?

Nabi saw. menjawab, aku melihat roh Julaibib diperebutkan para bidadari cantik dan ketika mereka rebutan ada salah satu bidadari yang tersingkap betisnya dan aku pun memalingkan mataku. Sungguh berbagaia Julaibib ternyata bidadari surga berhak untuk dirinya.

[Mrf]