Julaibib, Sahabat yang Dirindukan Bidadari Surga [2]

Julaibib, Sahabat yang Dirindukan Bidadari Surga [2]
Ilustrasi foto/net

SYAHDAN, suatu ketika setelah shalat berjamaah, Nabi saw. memanggil Julaibib dan melontarkan pertanyaan. “Apakah Julaibib tidak punya kemauan untuk menikah?,” tanya Nabi kepada Jualibib. Pertanyaan itu lalu diulang sampai 3 kali. Tetapi setiap Nabi bertanya Julaibib selalu menjawab, “ya Rasulullah mana ada orang yang mau menikah dengan saya, yang tidak mempunyai kelebihan apa-apa dan yang hina serta papa ini.”

Sampai akhirnya, Nabi pun berinisiatif membawa Julaibib kepada salah satu pembesar Anshor untuk dipinangkan dengan putrinya. Ketika Nabi bertemu pembesar dari Anshor, Nabi saw. pun menyampaikan maksud untuk meminang putrinya. 

Awalnya, pembesar Anshor ini menyangka, bila anaknya akan dipinang oleh Nabi, sehingga terpancar kebahagian karena akan menjadi keluarga Rasulullah. Tetapi ketika Nabi saw. menyebut pinangan untuk Julaibib, sahabat Anshor itu meminta waktu kepada Nabi saw. untuk diskusi dengan istrinya.

Lalu, ketika maksud Nabi itu disampaikan kepada istrinya, sontak rencana pinangan Nabi untuk Julaibib ditolaknya mentah-mentah. Itu lantaran dia tahu, bahwa Julaibib adalah orang yang tidak jelas nasabnya, juga kehidupannya yang papa. Sementara, anaknya merupakan perempuan yang tercantik di seantaro Madinah. 

Di tengah diskusi antara bapak dan ibunya, putrinya mendengar dan menanyakan tentang masalah yang didiskusikan. Begitu mendengar bahwa Nabi saw. meminang dirinya untuk Julaibib, sang anak dengan keimanan yang teguh lantas mengatakan, “wahai ayah dan ibu terimalah pinangan itu, karena saya yakin Nabi akan memberikan yang terbaik untuk saya, sambil membacakan satu ayat dalam al-Qur’an yaitu surat al-Ahzab ayat 36 yang artinya “tidak pantas bagi seorang mu’min baik laki-laki maupun perempuan apabila Allah dan Rasulnya menetapkan sebuah keputusan kemudian memilih satu keputusan yan lain. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.

Mendengar jawaban tersebut Nabi saw. berdoa kepada Allah, ”Ya Allah limpahkan kebaikan untuknya dan berikan keberkahan dalam hidupnya.” 

Akhirnya akad nikah dilaksanakan, Julaibib dan wanita cantik tersebut menikah. Begitulah Julaibib, karena kesabaran dan keikhlasannya menjalani hidup, ia pun dianugerahi istri yang cantik nan solehah.