Islam dan Tantangan Globalisasi

Islam dan Tantangan Globalisasi
Ilustrasi foto/Net

ISLAM merupakan agama yang sifatnya global dan universal. Sehingga Islam menghadirkan risalah peradaban yang sempurna dan menyeluruh, baik secara spiritual maupun material. Di dalamnya, terdapat aspek duniawi dan ukhrowi yang saling menguatkan. Keduanya adalah satu kesatuan yang utuh dan integral. Universalitas atau globalitas Islam menyerukan kepada semua manusia, tanpa memandang bangsa, suku bangsa, warna kulit dan perbedaan lainnya. Allah Swt. berifirman: ”Al-Qur’an itu hanyalah peringatan bagi seluruh alam”. (QS. At Takwir: 27)

Globalisasi yang terjadi sangat ini disebabkan oleh informasi yang sangat berkembang pesat melalui media sosial atau jaringan internet salah satunya. Internet menjadi pintu yang menjembatani kita dengan dunia luar, menjadikan dunia ini seperti sebuah kesatuan tanpa batas.

Allah Swt. berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13)

Ada dua dampak dari globalisasi, dampak positifnya yaitu kita mendapat banyak informasi dan referensi juga wawasan untuk menyelesaikan berbagai masalah dan menjadi lebih mudah berkomunikasi dengan siapapun di dunia ini.

Sedangkan dampak negatif, yaitu adanya benturan nilai-nilai norma dengan norma asing, misal bangsa Indonesia memiliki banyak norma yang tumbuh di masyarakat seperti norma agama dan norma sosial. Dan di dunia bagian lain norma tersebut tidak ada atau pun jauh berbeda. Sehingga generasi muda yang masih mencari jati dirinya lebih terpengaruh dengan gaya hidup di dunia saat ini, khususnya budaya barat.

Globalisasi yang terjadi tanpa ada dasar nilai Islam di dalamnya hanya akan merusak tatanan nilai dan akhlak, seperti gaya berpakaian orang barat yang serba terbuka, gaya hidup yang biasa minum alkohol, atau perilaku yang tidak sesuai dengan budaya timur.

Globalisasi telah mengajarkan kita untuk bisa belajar dengan cepat dan tepat, kitalah yang harus mengendalikan globalisasi dan bukan sebaliknya. Seorang muslim memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, jadi kita harus bisa mendakwahkan Islam dengan cara yang benar dan tepat.

Indonesia dalam hal ini haruslah memiliki seorang panutan atau pemimpin yang memiliki dasar Iman dan Islam yang kuat. Dengan tujuan untuk membangkitkan kembali Islam yang akan menjadi tameng atau pelindung bagi bangsanya dan sekaligus sebagai filter pertama dan utama dari dampak globalisasi.

[Mrf]