Intisari Ibadah Haji

Intisari Ibadah Haji
Ilustrasi foto/Net

RASULULLAH saw. bersabda: “Al-hajju Arafah, (puncak ibadah haji adalah Arafah). Barangsiapa yang mendapati Arafah sebelum (terbit) fajar, maka dia telah mendapati haji.” (Musnad Al-Humaidy, 11/399). Maksud hadis ini, wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling utama sehingga seorang yang melaksanakan ibadah haji harus berwukuf di Arafah.

Jika tidak sempat melakukan pada waktunya, hajinya tahun itu dianggap batal dan ia mesti mengulanginya tahun berikutnya jika ia masih mampu. Jadi, hadis ini menjelaskan pentingnya kedudukan wukuf di Arafah dalam rentetan prosesi ibadah haji. Bukan berarti jika seseorang sudah wukuf di Arafah, ia tidak perlu lagi melakukan rukun dan wajib haji yang lain.

Hikmah haji yaitu membina akhlak dan persaudaraan, bukan hanya sekadar ritual. Itulah sebabnya dalam al-Qur’an disebutkan: “Maka siapa yang menunaikan haji, maka dia tidak boleh melakukan rafas (hal yang berkaitan dengan hawa nafsu) dan tidak boleh melakukan kemaksiatan (fusuq) dan tidak bertengkar (jidal) selama menunaikan ibadah haji.” (QS. Al-Baqarah [2]:197)

Dari ayat di atas, yang paling utama dijaga dan diperhatikan oleh jamaah haji adalah masalah akhlak, bukan hanya menghafal doa-doa yang sunnah dan hal-hal yang lain. Seperti pesan Nabi dalam khutbahnya di Padang Arafah sebagai berikut: “wahai manusia sekalian, dengarkanlah perkataanku ini, karena aku tidak mengetahui apakah aku dapat menjumpaimu lagi setelah tahun ini di tempat wukuf ini. Sesungguhnya darah kamu, harta kekayaan kamu, merupakan kemuliaan (haram dirusak oleh orang lain) bagi kamu sekalian, sebagaimana mulianya hari, bulan dan di negeri yang mulia ini. Ketahuilah sesungguhnya segala tradisi jahiliyah mulai hari ini tidak boleh dipakai lagi termasuk segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara kemanusiaan (pembunuhan dan dendam) yang telah terjadi di masa jahiliyah. Sesungguhnya setan itu telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia. Setan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela.

Maka perhatikanlah perkataanku ini, sesungguhnya aku telah menyampaikannya. Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian, jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadits). Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim lain, seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali dengan senang hati telah diberikannya.”

Dari khutbah di atas dapat kita lihat bagaimana Rasulullah berpesan kepada umatnya untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan, hak-hak asasi manusia, dan kehormatan manusia. Pesan kemanusiaan inilah yang menjadi intisari dari ibadah haji.