Inilah Pemuda yang Cakap dalam Berbagai Bahasa dan Khafid al-Qur’an

Inilah Pemuda yang Cakap dalam Berbagai Bahasa dan Khafid al-Qur’an
Ilustrasi foto/Net
Bagian pertama

ZAID BIN TSABIT adalah seorang sahabat Anshar. Berasal dari Bani Najjar yang merupakan keluarga Rasulullah saw. di Madinah. Ayahnya wafat pada Perang Bu’ats. Ketika Rasulllah pertama kali datang ke Madinah, Zaid tengah berusia 11 tahun. Ia memeluk Islam bersama keluarganya.

Semasa kecilnya itu, Zaid seringkali diminta untuk mengantar makanan kepada Rasulullah. Itulah kenapa Zaid mendapatkan keberkahan ilmu, dan motivasi jihad yang tinggi, ini karena ia seringkali didodakan Sang Nabi kala mengantar makanan.Tak heran bila ketika usia Zaid genap 13 saja, motivasi jihadnya sudah begitu tinggi.

Suatu hari Zaid ikut bersama orang-orang dewasa berangkat menemui Rasulullah untuk turut serta dalam Perang badar. Tapi Rasullah tidak memberinya izin, lantaran Zaid masih terlalu kecil untuk berperang. Zaid pun pulang dengan kesedihan yang mendalam.

Namun bukan Zaid namanya bila motivasinya langsung surut. Saat Rasulullah menyiapkan pasukan Perang Uhud, lagi-lagi Zaid mendaftarkan diri. Dan kali ini ia berangkat bersama rombongan remaja seusianya.

Tiba di hadapan Nabi, Zaid bersama teman-temannya lalu menyatakan niatnya untuk ikut berperang. Satu persatu mereka maju dan memperlihatkan kemampuannya memainkan pedang, belati dan sebagainya. Namun, Rasulullah belum juga memberi kode bila mereka diizinkan ikut berperang. Setengah menangis, mereka terus membujuk Rasulullah. Namun Rasulullah tahu, mereka masih terlalu kecil, dan akhirnya mereka pun kembali ditolak ikut berperang.

Rupanya, Rasulullah melihat sisi lain dari Zaid bin Tsabit, kenapa kemudian dia tak mengizinkannya berperang. Zaid kecil ternyata punya potensi kecerdasan yang luar biasa. karena itu Rasulullah mendorong Zaid untuk menjadi penghafal al-Qur’an dan penerjemah berbagai bahasa.

Secara khusus, Rasulullah kemudian menugaskan Zaid untuk belajar berbagai bahasa. Dimulai dari bahasa Suryani, yang ia kuasai hanya dalam hitungan hari. Pun demikian dengan bahasa ibrani, yang dia kuasai dalam waktu yang relatif singkat.

Tentu saja tak hanya itu kelebihannya, Zaid juga dikenal sebagai seorang pemanah ulung. Seperti ia tunjukkan dalam Perang Khandaq. Selain itu, Zaid juga dikenal menguasai keahlian dalam perhitungan mawaris. Begitulah Zaid bin Tsabit, tumbuh dan berkembang berkat doa dan pengajaran khusus dari Rasulullah. [Mrf]