Indikator Aplikasi Fitrah Manusia (1)

Indikator Aplikasi Fitrah Manusia (1)
Ilustrasi foto/Net
Fitrah bertuhan

MADRASAH Ramadhan baru saja kita lalui. Diantara standar kelulusan dari kurikulum ramadhan adalah terimplementasinya nilai-nilai fitrah manusia dalam aktivitas kehidupan kita. Ada 3 hal yang menjadi indikator teraplikasinya fitrah manusia tersebut.

Indikator pertama teraplikasinya fitrah manusia adalah fitrah bertuhan. Fitrah BerTuhan adalah kesadaran bahwa sebagai hamba kita harus tunduk terhadap segala perintah dan larangan Allah. Dalam Ramadhan, Allah memerintahkan kita untuk berpuasa dengan meninggalkan makan dan minum dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Perintah ini kita taati karena kita menyadari bahwa kita harus patuh atas segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Kesadaran Ber Tuhan sebenarnya telah kita lakukan sejak kita berada di alam ruh. Sebagaimana firman Allah yang menyatakan bahwa Allah telah meminta agar kita menyadari bahwa kita akan tunduk dan patuh terhadap segala perintahnya dan menjauhi larangan. Perintah itu kemudian kita akui dan kita berjanji untuk melaksanakannya. “Alastu birabbikum qaaluu balaa syahidnaa.”

Diantara perintahnya adalah kewajiban kita untuk menebarkan kedamaian dan keselamatan bagi seluruh makhluk Allah di muka bumi dan menjauhi kezaliman dan kemungkaran yang dapat mengakibatkan penderitaan bagi makhluk Allah yang lainnya.

Menyadari fitrah bertuhan artinya bahwa kita harus menanggalkan segala sesuatu yang sering kita pertuhankan selain Allah Sang Maha Pencipta. Seringkali untuk meraih jabatan, pangkat, status sosial, kekayaan dan lain sebagainya, kita tinggalkan perintah Tuhan dan kita perturutkan perintah hawa nafsu kita. Allah dalam al-Qur’an mengingatkan bahwa ada orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Kebenaran yang diakuinya adalah kebenaran menurut versi hawa nafsunya. Keadilan yang hakiki adalah keadilan menurut hawa nafsunya. Dia tinggalkan kebenaran Wahyu dan dia perturutkan kebenaran menurut nafsu. Seperti Firaun, dia menganggap dirinya sebagai Tuhan yang menjadi sumber kehidupan dan kebenaran mutlak. Dia tunjukkan kesombongannya dengan merendahkan orang lain.

Dengan ramadhan, kita merasakan kelemahan dan ketidakmampuan diri kita. Tidak makan dan tidak minum dalam beberapa jam saja, kita merasakan lemah dan ketidakberdayaan kita. Puasa menyadarkan bahwa hamba ini hina, tidak memiliki kemampuan dan kekuatan. Kesadaran ini menjadikan manusia rendah hati sehingga berupaya untuk selalu merasa diri hina. Rasul menyatakan orang mulia adalah orang yang merasa dirinya hina hingga ia berupaya terus untuk memperbaiki dirinya. Sementara orang hina adalah orang yang merasa dirinya mulia sehingga ia senang merendahkan orang lain dan menyalahkan orang lain.

[Mrf]